Pemilu = Hadiah

Bagi kami, kelompok kelas menengah baru, yang baru thimik-thimik mencoba menegakkan keberadaan di dunia akademik, hari Sabtu adalah kemewahan yang selalu ditunggu. Bukan saja karena esoknya libur dan kesempatan melepaskan beban profesional rutin dengan main badminton, tetapi perayaan itu untuk saya sebenarnya dimulai pada jum'at malam: ronda malam.

Kami tinggal di sebuah kampung kecil di utara Jogja. Namanya mBanjarsari. Udara masih segar, kicau manuk kutilang, kokok ayam jago, lenguhan sapi, membentuk soundtrack orkestra pagi yang laras. Meskipun keindahan itu harus terganggu tepat pada jam 06.30, ketika mobil-mobil pengantar anak sekolah mulai melewati jalan kampung yang aspalnya mulai terkelupas. Tetapi bukankah itu sebuah konsekuensi logis dari keberadaan perumahan-perumahan yang ada di sebelah utara kampung kami.


Ronda malam Sabtu adalah kelompok pembauran yang sebenarnya; anggotanya lintas etnis, lintas agama, lintas propesi. Sebagian besar emang orang jawa, tapi jawanya macem-macem. Harap jangan menganggap Jawa itu homogen. Ada produk Jawa Timuran, Jawa model mBoyolali, Jawa Klaten, Jawa mBantul, dan Jawa Gunungkidul. Dalam kelompok kami ada juga delegasi dari Kalimantan dan Tanah mBatak (meskipun beliau-beliau ini sudah mengoyot kuat di nagari Ngayukjakarta Hadiningrat, sehingga dalam beberapa hal lebih Jawa dibanding kami yang dicetak di Jawa). Dan keragaman itulah yang membuat diskusi kami selalu hidup.


'sampean udah ngecek belum pak agus?' tanya mas Toro, pegawe percetakan, yang juga anggota KKPS kampung kami. Memang, pada saat Pileg yang lalu saya tidak tercantum dan dipaksa golput.
'sampun mas, saya dah lihat, ada kok nama saya'
'jane ki ya ngapa to ada pemilu segala' tiba-tiba sergah lik Karyo Gambleh, bukan nama sebenarnya, gelar 'gambleh' itu selain untuk membedakan dengan beberapa nama Karyo lain, juga karena kebiasaannya mendobos dan hobinya memang berkomentar,'... ha wong sejak dulu, ya gina gini aja! sembako tetep aja mahal, katanya sekolah gratis sampai sekarang tetep aja mbayar. mboros-mborosi duit negara aja. lihat tu pak Wiranto tu, dulu ngapain keluar dari golkar kalo sekarang sikep-sikepan dengan pak Jeka. tak bela belain milih Hanura je, kok gur seperti ini jadinya.'
'loh Yo, kowe itu lihat nggak to, dalan di selatan kampung itu kan sekarang kan jadi halus?' sahut mbah Rebo
'apa hubungane?' tanya lik Gambleh
'ha ya jelas ada. Menurutmu siapa yang nambal aspal itu?'
'pak Bambang...'
'Kamu pikir kenapa pak Bambang mau ngaspal tempat kita? rumahnya kan kidul sana?! ini kan karena pak Bambang itu nyaleg. Nyalon untuk dadi caleg! lha nek ora,tangeh lamun! ha wonge wae ra tau liwat kene kok' lanjut mbah Rebo.
'Yang namanya Pemilu itu sebenarnya hadiah dari pemerintah untuk wong cilik!' lanjut mbah Rebo yang memang paling senior di kelompok kami.

'hadiah piye to pakdhe? nek raskin, BLT, itu hadiah. Ini pemilu kok hadiah?' tanya saya.
'itu kan caranya pemerintah untuk meratakan kemakmuran to mas dosen. Itu cara alusnya pemerintah untuk memaksa wong sugih-sugih itu berbagi dengan kami wong cilik'  jlentreh mbah Rebo.



Waa, gawat nih, dia menggunakan kata 'kami' jelas itu untuk membedakan dirinya (yang notabene indigenous people) dengan 'kami yang lain' terdiri dari pendatang, dosen, dan intelek. Di satu sisi 'kami' ada Rebo, Toro, Tri, Sariman, Slamet, Paiman; di sisi lain 'kami' ini terdiri saya, Ucup, Hata, Sitompul, dan Yudi. Tapi saya diam saja, saya mbatin saja.

' coba digalih to mas, coba, pemerintah itu kan mbayari pembangunan itu dari pajak to?! nah, yang banyak ngemplang pajak itu siapa? rak ya orang kaya juga to?!' lanjut mbah Rebo,' jadi pilihan langsung seperti kemarin itu, sebenarnya caranya pemerintah untuk memaksa orang kaya membayar pajak,... lihat banyak orang datang ke kampung kita, ngasih dana untuk mesjid... datang yang lain, nyanggupi ngaspal jalan,...' (ia berhenti sebentar, menyeruput teh anget, menyokot sebiji pisang goreng). kami hanya bisa manggut-manggut.

'...Tapi itu bagi saya tidak penting...' lanjutnya
kami semua menjomblak kaget.
'kok saged mbah?' tanya saya
'yang penting bagi wong cilik  itu kan diaruhke, kapan to orang kecil itu bisa ketemu dan berkeluh kesah sama orang besar, kapan to para penggedhe itu mau datang ke kampung kecil, merasakan jalan jlegong-jlegong, menghirup bau lethong, kalau tidak pas pemilu?! Kami tahu bahwa keadaan itu tidak akan berubah secepat mbalik tangan. Perkara sesudah jadi caleg mereka tidak ingat pada kita yo ora pa pa, tapi sing penting kan torong mesjid dah gak blero lagi, jalan dah alus.'
'omong-omong, sampean wingi milih pak Bambang po?' tanya lik Gambleh
'ora' jawab mbah Rebo sambil klejingan
'wah, kalau gitu dosa no pak' ustadz Ucup yang dosen UII itu menyahut
'yo ora no pak, wong saya tidak janji milih dia kok, saya hanya berjanji mendukung... lha ya tak dukung to le nyalon jadi caleg...' jawab mbah Rebo membela diri
' aku yo ra milih Bambang, ha wong wingi tak utangi rabuk we ra oleh... dia kan punya toko pertanian di kidul ndeso hehehe' Sariman menyahut.

Tiba-tiba,
'hei, ayo mubeng, wis jam loro ki...' pak Sitompul yang sebelumnya duduk terkantuk-kantuk di pojok, mengajak berkeliling. Mengambil jimpitan di setiap rumah. Rombongan pun bubar, tanpa kesimpulan.
kami pun membagi diri dalam beberapa kelompok, dan menyebar.
Setelah hanya terdengar pukulan di tiang telepon beberapa kali, tanda adanya kelompok ronda yang sedang berkeliling.
Jam 3. Damai pun turun ke bumi. Selamat datang Sabtu pagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE