Postingan

Post Truth

Saya itu sering kacipuhan , repot campur bingung, ketika berhadapan pertanyaan-pertanyaan tidak terduga. Contohnya gini, kan pas saya lagi duduk-duduk santai di teras, tiba-tiba saja mak sret lik Gambleh langsung ngerem sepeda motornya dan tanpa ba bi bu langsung duduk dan nanya gini ‘mas dosen, yang namanya pos crut itu apa to?’ tanyanya dengan wajah seriyes. ‘pos crut? Apa to itu?’ tanyaku balik. ‘Whiayak, jangan pura-pura gitu to. Masa piyayi Gadjah Modo yang sudah kawentar winasis dan harusnya tahu sakdurunge winarah kok bisa gak tahu?! Dosen kok kudet,’ sergahnya. ‘Hei, jangan bawa-bawa Gadjah Modo lah. Saya kan tidak tahu itu urusannya dengan apa. Lha rumangsanya dosen Gadjah Modo itu harus tahu semuanya po piye?!’ jawab saya kemropok , jengkel tenan saya. Lha nadanya itu kan kayak ngece dan meragukan kapabilitasku. ‘hehehe sabar to mas dosen. Ha ya pada siapa coba kami ini mau nanya kalau gak pada intelektuil kayak njenengan itu,’ katanya sambal njegigis . Nadanya m...

Rindu yang Islami

Sore itu saya sedang thenger-thenger , habis di upyek-upyek oleh sang propesor tentang konstruksi teoritis yang masih ngambang. Lha ya piye to, selama hidup itu saya kenal konsep ruang dan waktu hanya dua sisi: di sini dan di sana (bisa dekat bisa jauh); sekarang dan lain waktu (bisa kemarin bisa besok). Lha kok ini saya disuruh mikir ruangan interstitial, ning kana lan sekaligus neng kene, sekaligus ora neng kana ya ora neng kene. Piye ha ra ? ! Apa tidak sampai kemut-kemut mumetnya?! Saya membayangkan tentang ngelmu semacam Kakang Pembarep Adhi Wuragil yang dimiliki Agung Sedayu dalam novel SH Mintarja itu. Orang bisa memecah diri jadi tiga. Lalu yang satu pergi ke masa lalu, satu tetap di sini, satu disuruh pergi ke masa depan. Gitu kali ya?! Di luar titik-titik air hujan mengetuk-ngetuk jendela secara ritmis, menciptakan kesyahduan sekaligus kekawatiran. Syahdu karena gerimis itu katanya mengundang macam-macam, termasuk kegalauan, keromantisan, kerinduan, pokoknya yang bikin...

Ngaji dan Selera

Mak dheg! Saya trataban betul ketika mbah Rebo yang notabene merupakan salah satu imam permanen di masjidku tiba-tiba melontarkan pertanyaan super berat macam begini: ‘mas dosen, jan-jannya, yang namanya wahabi itu apa to?’ Saat itu kami berempat selonjoran di teras masjid menunggu gerimis reda. Di situ ada juga mbah Ngalim yang juga berstatus imam permanen, pak Hadi yang kadang menjadi imam cadangan, serta saya yang imam pocokan alias imam tembak. Jadi ini forum para imam, meskipun levelnya berbeda wehehehehehe Yang membuat berat itu adalah kata ‘jan-jannya’ itu. Menurut ki Sindung, yang guru pilsafat itu, pertanyaan semacam itu bersifat substantif, jawabannya tidak boleh miyar miyur, harus menunjuk pada sesuatu yang mendasar. Kapokmu kapan?! Ini jelas menjadi beban tersendiri bagiku yang meskipun dosen Gadjah Mada, tetap masih cap kambing. Lha tidak menjadi beban gimana, di satu sisi mbah Rebo itu sering menganggap saya waskitha je, lha kalo jawabanku mengecewakan kan ya gimana. ...

20 Milyar

‘Woooo, ra kalap tenan ki…’ suara mbah Rebo terdengar melengking membelah ketenangan malam yang gerimis. Saat itu, saya pas mau mengetuk rumah pak Sapam, yang tadi malam jadi pos ronda, ‘…ha kuwi niyate bekerja apa mat-matan, nunut ngesis?....’ nadanya kesal betul. Apalagi kalau bukan mengomentari berita malam di tipi. ‘napa je mbah?’ tanya saya sambil menjedhul  ke dalam. ‘ weh, mas dosen…. niku loh mas, yang namanya DPR itu kok ya semakin ndadra… mangkin kebangeten bolehnya mengabul-abul duit… mosok tuku kursi we sampai 20 milyar’ jawabnya sambil klincutan. ‘ ya tidak to mbah, 20 milyar itu untuk dandan-dandan… renovasi ruangan rapat… bukan kursi saja,’ terang saya. ‘betul itu mbah, kursinya itu hanya 24 juta kok….’ Sambung  mas Yudi Linggismaut ‘…hanya 24 juta?? Kamu bilang hanya?’ sergah mbah Rebo cepat,’… apa gak ada yang lebih mahal?’ ‘ya mbokmenawa saja,  kalau kursi lama itu sudah tidak kondusip untuk diduduki dan dipakai berpikir tentang negara,’ jawab mas Yudi ...

2 Milyar

Barangkali risiko terbesar jadi propesi dosen adalah dipandang serba tahu segala hal. Mungkin bagi teman-teman ronda saya, dosen itu semacam buruh di pabrik ilmu pengetahuan. Jadi apapun yang aneh dalam nalar mereka hampir selalu dikonfirmasi pada saya. Yang paling akhir ya malam sabtu kemarin. Pemicunya adalah polemik tentang renovasi toilet seharga 2 Milyar. Pak Sar dengan lugunya membayangkan betapa pesingnya kantor DPR. Yang dia bayangkan, semua kursi di ruang rapat DPR diganti dengan toilet duduk!!! Semua terbahak riuh di tengah malam buta. ‘… ho oh ya, nanti pas rapat, sambil interupsi….ek, clethet, plung,….’ sahut mas Yudi sambil terbahak. ‘ itu sih bukan rapat, tapi ngising berja….’ lanjut pak Sapam ‘hiesttt…!’  potong mbah Rebo galak, ‘… berjamaah ki untuk yang baik-baik, mosok gituan kok dinamain jamaah……’ ‘anggota DPR itu apa ya gak punya toilet to di rumah? Urusan gitu aja kok digembol sampai kantor…’ sahut mbah Man. ‘weee, itu kan caranya pemerintah, untuk menekan kor...

Kekerasan

Saya itu lagi judheg.  Nonton TV itu mestinya membuat hati gembira, ha kok critanya dari hari ke hari tentang kekerasan. Ada yang demo anti-kekerasan eh lha kok yang muncul justru kekerasan juga. Mestinya kan konsisten, seperti yang dipopulerkan oleh Mahatma Gandhi tentang Ahimsa. Sore itu, saya yang kebetulan pulang sore, iseng-iseng menyetel tipi. Ha kok isinya tentang mahasiswa Makasar menyerang pos polisi. Pindah ke channel lain, ya gebug-gebugan lagi. Kali ini ceritanya berbeda, ganti polisi yang menggebugi anak-anak yang ‘lagi belajar’ jadi maling. Apa sih yang salah? Kok rasanya kita itu hanya cari-cari alasan untuk menggebugi polisi. Apakah ini ekspresi kekesalan pada polisi? Pada negara? Pada presiden? Lha nek yang dirusak itu lampu traffic light dan fasilitas umum lainnya, apa ya bukan kita sendiri yang rugi? Itu kan dibayar pakai uang pajak yang kita bayarkan juga? Dan… masyaallloooooh, pelakunya adalah (apa ya pantes kalau kita sebut) MAHASISWA?! Gara-gara itulah saya m...

Bocah Tua Nakal

Ini masih ada kaitannya dengan cerita bom buku kemarin. Mbah Rebo sebagai calon enterpreneur ayam binaan pemerintah itu merasa sangat beruntung, justru karena tidak menuruti saran LSM pendamping. Salah satu persoalan mendasar dalam pengembangan usaha kecil dan menengah adalah sifatnya yang tidak bank-able. Oleh karena itu, setelah diajari menghitung aset dan sebagainya, melengkapi dokumen ini itu, mendaftar ke dinas, mereka didorong untuk menjadi sebuah badan usaha. Dengan status itu mereka boleh mengajukan kredit ke bank. Padahal, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa yang namanya usaha kecil itu kan cuma escaping hole-nya orang kecil menyiasati terbatasnya lapangan kerja dan penghasilan (meski sering pula escaping hole itu menjadi sumber utama pendapatan rumah tangga!). Mbah Rebo itu juga termasuk salah satunya. Kebetulan ada saudara yang sukses ternak ayam, makanya beliau menjadi anak asuh saudaranya itu. Dia hanya menyediakan bangunan dan tenaga memelihara. Kuthuk dan pakan sudah d...