20 Milyar
‘Woooo, ra kalap tenan ki…’ suara mbah Rebo terdengar melengking membelah ketenangan malam yang gerimis. Saat itu, saya pas mau mengetuk rumah pak Sapam, yang tadi malam jadi pos ronda, ‘…ha kuwi niyate bekerja apa mat-matan, nunut ngesis?....’ nadanya kesal betul. Apalagi kalau bukan mengomentari berita malam di tipi.
‘napa je mbah?’ tanya saya sambil menjedhul ke dalam.
‘ weh, mas dosen…. niku loh mas, yang namanya DPR itu kok ya semakin ndadra… mangkin kebangeten bolehnya mengabul-abul duit… mosok tuku kursi we sampai 20 milyar’ jawabnya sambil klincutan.
‘ ya tidak to mbah, 20 milyar itu untuk dandan-dandan… renovasi ruangan rapat… bukan kursi saja,’ terang saya.
‘betul itu mbah, kursinya itu hanya 24 juta kok….’ Sambung mas Yudi Linggismaut
‘…hanya 24 juta?? Kamu bilang hanya?’ sergah mbah Rebo cepat,’… apa gak ada yang lebih mahal?’
‘ya mbokmenawa saja, kalau kursi lama itu sudah tidak kondusip untuk diduduki dan dipakai berpikir tentang negara,’ jawab mas Yudi sekenanya.
‘ha kok elok… nek kursinya jelek, apa ya gak bisa berpikir?!’ kata mbah Man.
‘ha mungkin saja to nek piranti berpikirnya pada diletakkan neng bokong,’ bela lik Gambleh.
‘Heiiiis, kowe ki….kumat! Omongan itu mbok ya dijaga… bisa kena pasal loh omongan seperti ini!’ bentak mbah Rebo.
‘termasuk penghinaan aparatur negara betul loh... wakil rakyat kok diunekke neng bokong...’ sambung mbah Man.
‘loh, saya itu tidak menghina kok… maksud saya itu pertimbangannya… sampean itu ya jangan jauh to kang,mikirnya’ jawab lik Gambleh membela diri,’… itu kan sanepan, perumpamaan saja,… pertimbangannya yang saya maksud itu adalah duit,... mutusin in itu yang dipikir ada duitnya gak tu... gitu! Lha mau ditaruh mana kalo sampean menaruh duit itu? Apa ya ditempelin bathuk? Ha rak ya kaya dagelan Srimulat…’.
Debat alias eyel-eyelan pun dimulai. Segera terbentuk dua faksi yang berseberangan, kelompok tua yang berprinsip ‘ngono ya ngono ning aja ngono’ versus kelompok muda yang punya dogma ‘jujur dalam pikiran perkataan dan perbuatan’ (hehehe seperti Pramuka ya?). Perdebatan berlangsung seru, meski sebenarnya kedua kelompok itu sepakat sesepakat-sepakatnya bahwa alokasi dana 20 milyar untuk renovasi ruang rapat DPR itu mencederai rasa keadilan.
Lha kok tiba-tiba, ada usulan untuk membeli tikar baru untuk kelompok ronda. Karena bulan-bulan ini ditengarai ada penurunan keaktifan anggota. Malam ini hanya lima orang saja yang datang. Ditengarai karpet yang tipis dan lusuh itu penyebabnya, karena beberapa orang telah sambat masuk angin duduk di lantai yang dingin.
Lalu, usulan bertambah untuk membeli tipi warna kecil-kecilan, untuk mengantisipasi mereka yang enggan berangkat awal kalau yang di-pos-i (ketempatan pos) itu tidak ada tipinya. Untung saja usulan itu tidak ditambah dengan perbaikan toilet. Bagi kami kaum peronda, toilet itukan ya ada di mana-mana, di bawah pohon, di balik grumbul, yang penting tidak ketahuan orang dan baunya tidak mengganggu. Asal tidak dekat rumah orang itu aman.
‘Hitung-hitung menyumbang untuk kesuburan tanah,’ kata mbah Rebo serius.
Komentar
Posting Komentar