Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Bocah Tua Nakal

Ini masih ada kaitannya dengan cerita bom buku kemarin. Mbah Rebo sebagai calon enterpreneur ayam binaan pemerintah itu merasa sangat beruntung, justru karena tidak menuruti saran LSM pendamping. Salah satu persoalan mendasar dalam pengembangan usaha kecil dan menengah adalah sifatnya yang tidak bank-able. Oleh karena itu, setelah diajari menghitung aset dan sebagainya, melengkapi dokumen ini itu, mendaftar ke dinas, mereka didorong untuk menjadi sebuah badan usaha. Dengan status itu mereka boleh mengajukan kredit ke bank. Padahal, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa yang namanya usaha kecil itu kan cuma escaping hole-nya orang kecil menyiasati terbatasnya lapangan kerja dan penghasilan (meski sering pula escaping hole itu menjadi sumber utama pendapatan rumah tangga!). Mbah Rebo itu juga termasuk salah satunya. Kebetulan ada saudara yang sukses ternak ayam, makanya beliau menjadi anak asuh saudaranya itu. Dia hanya menyediakan bangunan dan tenaga memelihara. Kuthuk dan pakan sudah d...

40 juta

Trrrrttt… trrrrttt…trrrttt… henponku bergetar. Saat itu saya pas jadi moderator di seminarnya anak-anak TPL. Ada sms masuk, dari istriku. Bunyinya ‘Yah, gimana caranya menyampaikan secara antropologis…’ Ha kok tumben, dia tanya tentang cara yang antropologis?! Sore-sore adalah waktu yang mewah bagi keluarga kami. Menikmati sore sambil mengelesot di teras rumah, kombinasi udara yang mulai mendingin, ritme tubuh yang mulai pelan, cahaya cadhik ayu yang membawa bias oranye, pisang goreng, teh anget, menyusun sebuah gambaran yang elok dan panoramik betul. Saat saya menglaras dan mat-matan seperti itu kok tiba-tiba, pak Situk (tetangga sebelah) bolehnya gita-gita mendatangi saya. Sambil menenteng henponnya. Biasanya kalau hanya mau tanya soal teknis, beliau tidak akan setergesa itu. ‘nyuwun priksa pak, ngeten niki saestu napa?’ katanya sambil menyorongkan henponnya. Terbaca sebuah sms ‘Selamat, Anda memenangkan hadiah Rp. 40 juta dari XL, yang diundi tadi malam jam 22.30 di RCTI. Untuk in...

Serangan Ulat Bulu

Sejak minggu yang lalu kelompok kami sedang resah. Apa lagi kalau bukan gara-gara serangan ulat bulu yang sudah seperti malware komputer, merembet kemana-mana. Ketika berita pertama tentang ulat ini muncul di Probolinggo, kami masih menganggap  ‘ah, masih jauuuhh, mosok to uler e akan nggremet sampai Jogja?!’ Orang-orang masih tenang. Ketika merembet ke Pasuruan dan Malang, kami masih tenang, ‘ah, itu kan hanya menyerang pohon pelem saja!’ Di kampung kami, memang hanya ada berapa batang saja. Lhadalah, kemudian kok kabar tentang ulat bulu ternyata sudah meluber kemana-mana, bahkan di Jakarta yang sudah lebih banyak gedung betonnya daripada pepohonan itu kok ya sudah diserang!? Jadilah, malam ronda kami menjadi sidang pleno darurat membahas serangan ulat bulu. Ndilalahnya kok timnya komplit, biasanya kalau musim gerimis ini hanya  thar thir  4-6 orang saja yang datang. Mungkin isu ulat bulu itu membuat mereka merasa perlu menyingkap selimut, mengalahkan rasa dingin dan mal...

Mujahadah (lagi)

Mungkin saya itu orang yang terobsesi oleh novelnya Umar Kayam ‘Para Priyayi’. Setidaknya itu pandangan istri saya. Ha ya bagaimana lagi, yang jelas namanya keindahan sore hari itu kan diciptakan Alloh untuk dinikmati dan disyukuri. Lha cara saya bersyukur terhadap anugerah keindahan itu adalah dengan klekaran di teras. Acara itu semakin laras dan nges ketika ditemani segelas teh manis anget, koran, dan gorengan.  Transisi dari siang (kerja) ke malam (istirohat) kan perlu ada masa peralihan yang mulus. Dalam banyak kebudayaan, masa peralihan itu disebut masa liminal, yang dimaknai dengan bahaya. Oleh karena itu, kata Van Gennep, perlu dibuatkan ritual atau slametan. Biar orang yang mengalami perubahan itu selamat dan sukses melampaui proses itu. Begitulah, hampir setiap sore, ritual itu tersaji di depan rumahku. Lha kok, sabtu sore yang lalu, tanpa dinyana tanpa diundang, pakdhe Karso Ngali seorang tetangga jauh tiba-tiba saja kok ikut ngelesot di teras rumahku. Padahal jalur jalan...

Jalan Keluar

Topik yang sedang in pada bulan-bulan Mei Juni Juli adalah sekolah. Di mana-mana yang dibicarakan adalah ‘sekolah yang baik’. Beruntunglah kami yang belum memiliki anak usia liminal alias peralihan, meskipun kami pun sadar bahwa acara berburu sekolah (harap jangan dibayangkan sekolahnya lari, mlumpat-mlumpat seperti anak kambing yang lagi berlatih berlari heheheh) suatu saat datang juga pada diri kami. Trending topic ini juga sempat mampir ke kelompok ronda kami. ‘paling besok si Monah sekolahnya di SMP candi atau nJangkang saja… yang dekat,’ kata lik Gambleh sambil menyisil kacang rebus. ‘ya situ itu termasuk sekolah bagus juga kok…’ lanjut mbah Man, yang cucunya sekolah di SMP candi ‘sing bagus tu yang bagaimana je? Sekolahane yang bagus apa kepiye?’ sergah mbah Rebo ‘ya sing sering juara gitu loh mbah murid-muridnya… mosok milih sekolah kok pertimbangannya gentengnya bagus tidak, cat nya kusem tidak…’ kali ini pak Sapam yang menjawab. ‘ we lha, genteng, dinding, ki penting juga loh...

Ikhlas

Orang kaya itu enak. Ibaratnya madep ngalor sugih, madhep ngidul sugih. Segala yang dimaui mudah dicapai. Termasuk dalam urusan ibadah, meskipun hitung-hitungan akhirnya tetap pada ridhonya Gusti Alloh, secara matematis orang kaya itu memiliki potensi untuk mendapatkan tiket surga lebih besar daripada orang kebanyakan. Mohon ini jangan dibantah dulu bahwa ibadah itu bukan matematika. Saya baru sadari itu ketika rerasan di teras masjid kampung kami, saat selesai rapat panitia renovasi masjid. Agenda kami malam itu mencoba mengidentifikasi donatur potensial yang ada di kampung kami. ‘Kaji Ngaripin dah masuk belum tuh?’ mbah Rebo usul ‘weh, nek kae ki  meskipun Haji gak bisa dijagakke kok..’ gumam lik Gambleh ‘betul, ha wong kita kerja bakti bikin konblok di depan rumahnya aja gak nyumbang blas je,’ pakdhe Arjo meneruskan. Beliau ini menteri pekerjaan umum kampung kami. ‘ya didaftar saja dulu, perkara ngasih tidaknya kan nanti…’ sahut mas Suyat, bendaharawan andalan kampung kami. Sak...

KATE

Begitu banyaknya persoalan yang mencuat akhir-akhir ini membuat forum ronda malam sabtu kami kali ini tidak fokus sama sekali, meski tingkat kehadiran anggota terhitung komplit. Mas Yudi Linggismaut, pak Tom, dan lik Gambleh yang memang pandemen sepakbola lebih suka membahas kisruh PSSI dan Arsenal versus Manchester United. Mbah Rebo, ustadz Ucup, dan pak Dadi membahas NII di sudut lain. Sapam Slamet dan pak Sar sibuk dengan perunggasan. Maklum propesi sampingan mas Sapam adalah blantik unggas, mulai burung oceh-ocehan sampai jago bangkok. Saya, pak Karun, dan mas Toro yang non-partisan alias hanya fanatik pada TV (artinya apapun yang ada di TV kami lihat, meski remotenya dipegang orang lain). Golongan terakhir ini fokusnya hanya menahan diri dari kantuk semata! Sampai jam 00.30, semua masih sibuk dengan agenda plenonya masing-masing. Pas pada jam setengah satu itu, entah karena kehabisan bahan omongan atau apa, kok tiba-tiba saja semua diam. ‘weh, nek namanya priyayi itu kok dimana-m...

Motor dan Karl Marx

Awalnya hanya membicarakan motor baru, namun obrolan malam sabtu lalu pun menjadi agak sensitif. Gara-garanya mas Sapam yang ngedhunke atau membeli sepedah montor matik baru. Saya pikir ya pantas saja orang membicarakan itu, ha wong proporsi motor dan isi rumah itu mencapai 75 persen. Anggota rumah tangga itu 2 orang dewasa dan 2 anak yang masih duduk di kelas 2 dan kelas 1 SD; ha kok ada 3 motor di rumah itu?! Kesenjangan semacam ini kan merangsang minat meneliti siapapun to? ‘arep nggo apa ngedhunke montor meneh ki?’ tanya mbah Rebo, seakan mewakili kami semua. ‘mumpung ada kreditan murah je mbah,’ jawab mas Sapam,’.. lagian sing lawas itu sudah tidak pantes kalau dipakai nyumbang… yang satunya itu montor perempuan, kecil, gak muat kalau bawa 4 penumpang…’ ‘kok elok… montor aja ada jenis kelaminnya segala…’ sahut lik Gambleh sinis. ‘montor nggo nyumbang dhewe, untuk nganter anak ada sendiri, untuk cari rumput ada sendiri… ckckck’ sambung mbah Man. Memang, di kampung kami tercinta, y...

HARAM

Kelompok ronda kami memang tergolong pemalas jika dibandingkan dengan kelompok ronda hari lain. Jika kelompok yang lain memproklamasikan diri sudah komplit berkumpul sejak jam 10 malam, kelompok kami paling cepat jam 11 baru ada thirrr satu atau dua orang. Mungkin penyebab dari kemalasan ini adalah tidak adanya orang di kelompok kami yang hobi bermain kartu ceki atau remi, yang biasanya sangat efektif untuk menjaga mata tetap terjaga. Syahdan, minggu yang lalu adalah rumah saya yang keposan (dijadikan pos: red). Sejak jam 10 semua sudah tertata rapi: tikar sudah digelar, tipi sudah digotong ke ruang tamu, makanan sudah thirik-thirik berjejer, termos sudah diisi full dengan air mendidih, gelas bersih, kopi sacetan, teh, pokoknya sudah ibaratnya tinggal stater dan jalan. Elahdalah, sampai saya terkantuk-kantuk di depan tipi sampai jam setengah 12, kok baru ada satu yang datang. Yaitu mbah Paiman, yang kayaknya tidak begitu sehat. Wajahnya agak pucat. Setengah gelas teh panas, tampaknya t...

Bandung, Bumi Periangan

Seumur-umur baru minggu lalu lalu saya merasa super panik gara-gara nyaris kepancal sepur alias ketinggalan kereta. Gara-garanya adalah salah ambil lokasi parkir inap mobil. Ceritanya kan kami sekeluarga (tentunya juga beberapa keluarga lain)  ini mendapatkan kanugrahan dari CRCS dipiknikkan ke mBandung. Naik sepur rame-rame.  Kami sebenarnya sudah berangkat dari ndalem Njarsari jam 8.30, karena dihimbau untuk siap di stasiun jam 9 dan kereta berangkat jam 9.27. Mestinya saya sadar bahwa pertama: sekarang adalah musim liburan; kedua, jalan raya bukanlah milik embah saya; sehingga saking padatnya jalan saya sekeluarga baru sampai di peron selatan stasiun tugu jam 09.20. Yang membuat kecut adalah informasi bahwa parkir inap mobil ada di parkir timur. Setelah drop anak istri, segeralah saya tancap gas. Alhamdulillah, sampai juga dalam waktu 5 menit. Harap tidak ditanyakan bagaimana cara saya melintas di Pringgokusuman, bunderan Samsat, Bumijo, hingga parkiran timur stasiun Tugu! ...

Ruwah 1

Saya tidak tahu pasti asal kata ‘Ruwah’ akan tetapi jelas bahwa ini adalah nama lokal dalam penanggalan Jawa. Penanggalan Jawa memang unik, ia adalah bukti akulturasi yang hebat antara Jawa dan Islam (atau mungkin lebih tepatnya Islamisasi kebudayaan Jawa). Lihatlah nama bulan berikut: Sapar, Mulud, Bakdo mulud, jumadil awal, jumadil akir, rejeb, sawal, dan dulkangidah, yang merupakan adaptasi lokal terhadap nama bulan dalam penanggalan Arab. Akan tetapi, lihat juga ada juga bulan Besar, Sura, Ruwah, dan Pasa, yang lebih bernuansa lokal.  Saya tidak tahu persis mengapa ‘Ruwah’ lebih populer daripada ‘sya’ban’. Yang jelas nama bulan Jawa itu bermakna sesuatu: Besar = bulan sumbangan; Pasa = melakukan ibadah puasa; Sura = bulan wingit dan penuh larangan. Lha kalau Ruwah??? Bagi saya pribadi ‘Ruwah’ itu kok kedengarannya mirip dengan ‘mBruwah’ yang berarti ‘melimpah’. Yang saya rasakan bulan Ruwah ini adalah bulan yang memang melimpah. Bayangkan, kalau biasanya orang tahlilan itu kan...

Ruwah dan Pembajakan

Antropolog itu secara akademis selalu mengklaim sebagai orang yang paling dekat dengan subjek yang diteliti. Apalagi kami ini kan dilatih dengan metode observasi partispasi yang diagul-agulkan dalam menyelami sisi-sisi yang paling dalam kehidupan si subjek. Jadi secara yuridis formal, kami ini sah untuk melakukan klaim akademis itu. Akan tetapi, kali ini ijinkanlah saya mengakui kesalahan interpretasi. Ini berkait dengan tulisan saya tentang ‘Ruwah’ yang saya posting kemarin. Kemarin saya mengklaim ‘ruwah’ itu bukan berakar pada bahasa Arab, ternyata itu salah. Kemarin sore mbah Kaum pas hadir di serial kenduri VII di rumah mbah Joyo menjelaskan panjang lebar, bahwa ‘Ruwah’ itu berasal dari kata ‘Arwah’. Jadi bulan Ruwah adalah bulan khusus Arwah. Oleh karenanya, kegiatan-kegiatan yang dekat dengan arwah, makam, doa, kenduri, kirim luwur, baik sekali  dilakukan pada bulan ini. Penjelasan ini bagaimanapun juga menyokong pandangan saya tentang dominasi Islam dalam kultur jawa. Syah...

Pemilu = Hadiah

Bagi kami, kelompok kelas menengah baru, yang baru thimik-thimik mencoba menegakkan keberadaan di dunia akademik, hari Sabtu adalah kemewahan yang selalu ditunggu. Bukan saja karena esoknya libur dan kesempatan melepaskan beban profesional rutin dengan main badminton, tetapi perayaan itu untuk saya sebenarnya dimulai pada jum'at malam: ronda malam. Kami tinggal di sebuah kampung kecil di utara Jogja. Namanya mBanjarsari. Udara masih segar, kicau manuk kutilang, kokok ayam jago, lenguhan sapi, membentuk soundtrack orkestra pagi yang laras. Meskipun keindahan itu harus terganggu tepat pada jam 06.30, ketika mobil-mobil pengantar anak sekolah mulai melewati jalan kampung yang aspalnya mulai terkelupas. Tetapi bukankah itu sebuah konsekuensi logis dari keberadaan perumahan-perumahan yang ada di sebelah utara kampung kami. Ronda malam Sabtu adalah kelompok pembauran yang sebenarnya; anggotanya lintas etnis, lintas agama, lintas propesi. Sebagian besar emang orang jawa, tapi jawany...