40 juta
Trrrrttt… trrrrttt…trrrttt… henponku bergetar. Saat itu saya pas jadi moderator di seminarnya anak-anak TPL. Ada sms masuk, dari istriku. Bunyinya ‘Yah, gimana caranya menyampaikan secara antropologis…’ Ha kok tumben, dia tanya tentang cara yang antropologis?!
Sore-sore adalah waktu yang mewah bagi keluarga kami. Menikmati sore sambil mengelesot di teras rumah, kombinasi udara yang mulai mendingin, ritme tubuh yang mulai pelan, cahaya cadhik ayu yang membawa bias oranye, pisang goreng, teh anget, menyusun sebuah gambaran yang elok dan panoramik betul. Saat saya menglaras dan mat-matan seperti itu kok tiba-tiba, pak Situk (tetangga sebelah) bolehnya gita-gita mendatangi saya. Sambil menenteng henponnya. Biasanya kalau hanya mau tanya soal teknis, beliau tidak akan setergesa itu.
‘nyuwun priksa pak, ngeten niki saestu napa?’ katanya sambil menyorongkan henponnya. Terbaca sebuah sms ‘Selamat, Anda memenangkan hadiah Rp. 40 juta dari XL, yang diundi tadi malam jam 22.30 di RCTI. Untuk info hubungi… 08xxxxxxxx. Pengirim: XL’. Lucunya, yang tertera di inbox adalah nomer lain, bukan tulisan XL. Ah, modus ini kan sudah basi?! Tapi ternyata tidak bagi pak Situk dan keluarganya. Mereka sangat serius menyikapi itu.
Saya pun menjelaskan panjang lebar tentang model penipuan melalui sms semacam itu. Bahkan saya tunjukkan bahwa saya pun ‘mendapatkan hadiah 36 juta dari KKBima energy’. Pak Situk terlihat cuwa, kecewa. Setelah berbasa-basi sebentar beliau lantas pulang.
Usut punya usut (menurut cerita istri saya), siang kemarin keluarga pak Situk itu opyak bin heboh. Gara-garanya ya sms hadiah itu. Istri saya bahkan dipanggil, dimintai pendapat tentang sms itu. Istri saya pun sudah menjelaskan bahwa itu modus penipuan yang sebenarnya sudah sering terjadi. Akan tetapi kayaknya mereka tetap tidak percaya kalau itu penipuan, 40 juta je!! Di meja keluarga itu sudah tersedia berbagai berkas persyaratan untuk mengklaim hadiah itu. Ada fotocopy KTP, amplop, materai, kartu perdana, pokoke komplit lah… ha wong 40 juta je!
‘model ngeten niki pun kathah loh pak yang kena,’ kata istri saya mencoba meyakinkan. Seraya memberikan contoh beberapa orang yang pernah kena tipu. Salah satunya adalah anak dari rewang yang bekerja di depan rumah, yang kena 750 ribu (gaji 2 bulan kerja sebagai rewang).
‘lha wong tadi itu petugasnya XL sendiri yang menjelaskan… ada syarat-syaratnya…cobi saya belnya lagi!’ lalu pak Situk pun memencet nomer yang dikatakan sebagai call center. Lalu sesudah nyambung dibuatnya mode loudspeaker.
Dari seberang sana, ada suara perempuan cantik (hehehe… mestinya kan ya begitu to, customer service je) yang dengan suara khas customer service mengarahkan pada orang tertentu. Lalu, terjadilah dialog tentang tata cara mengklaim hadiah. Pak Situk mencoba menawar, karena memang keluarga itu memang bukan keluarga berada. Si bapak XL itu terus mendesak agar syarat-syarat mengirimkan pulsa dan uang 450 ribu segera dilakukan. Katanya kalau uang kiriman sudah masuk mereka akan langsung menuju ke tempat pak Situk. Dikatakan pula kalau di situ sudah ada notaris dan dari kepolisian segala. Intinya, pak Situk kalah dalam pembicaraan, dan hanya bisa nggah-nggih semata.
Ketika istri saya berusaha meyakinkan kalau itu penipuan dengan menunjukkan kejanggalan-kejanggalan, mereka kok kayaknya masih ngotot bahwa itu betulan. Kapan lagi dapat duit 40 juta?!
Kami tidak tahu akhirnya bagaimana. Yang jelas di meja ruang tamu mereka sudah komplit syarat itu, yang belum tinggal duit dan mengirim saja.
Inilah rupanya yang ditanyakan istriku lewat sms itu, ‘meyakinkan orang secara antropologis’. Biar mereka itu bisa berpikir jernih dalam melihat persoalan. Tapi memang kan perspektif orang itu kan tidak semudah itu digeser. Apa yang dapat dilakukan kan sebenarnya hanya mencoba menolong agar mereka tidak tertipu (450 ribu itu banyak loh untuk ukuran nJarsari). Kami tidak tahu juga, mungkin saja kami dianggap menghentikan rejeki orang! 40 juta je! Semoga saja tidak.
Oalah, rakyatku, tetanggaku, kok begitu sulapnya pada duit. Kapitalisme sudah jauh merasuk dalam sendi kehidupan masyarakat pedesaan. Yang ketinggalan informasi jadi korban!
Komentar
Posting Komentar