Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

20 Milyar

‘Woooo, ra kalap tenan ki…’ suara mbah Rebo terdengar melengking membelah ketenangan malam yang gerimis. Saat itu, saya pas mau mengetuk rumah pak Sapam, yang tadi malam jadi pos ronda, ‘…ha kuwi niyate bekerja apa mat-matan, nunut ngesis?....’ nadanya kesal betul. Apalagi kalau bukan mengomentari berita malam di tipi. ‘napa je mbah?’ tanya saya sambil menjedhul  ke dalam. ‘ weh, mas dosen…. niku loh mas, yang namanya DPR itu kok ya semakin ndadra… mangkin kebangeten bolehnya mengabul-abul duit… mosok tuku kursi we sampai 20 milyar’ jawabnya sambil klincutan. ‘ ya tidak to mbah, 20 milyar itu untuk dandan-dandan… renovasi ruangan rapat… bukan kursi saja,’ terang saya. ‘betul itu mbah, kursinya itu hanya 24 juta kok….’ Sambung  mas Yudi Linggismaut ‘…hanya 24 juta?? Kamu bilang hanya?’ sergah mbah Rebo cepat,’… apa gak ada yang lebih mahal?’ ‘ya mbokmenawa saja,  kalau kursi lama itu sudah tidak kondusip untuk diduduki dan dipakai berpikir tentang negara,’ jawab mas Yudi ...

2 Milyar

Barangkali risiko terbesar jadi propesi dosen adalah dipandang serba tahu segala hal. Mungkin bagi teman-teman ronda saya, dosen itu semacam buruh di pabrik ilmu pengetahuan. Jadi apapun yang aneh dalam nalar mereka hampir selalu dikonfirmasi pada saya. Yang paling akhir ya malam sabtu kemarin. Pemicunya adalah polemik tentang renovasi toilet seharga 2 Milyar. Pak Sar dengan lugunya membayangkan betapa pesingnya kantor DPR. Yang dia bayangkan, semua kursi di ruang rapat DPR diganti dengan toilet duduk!!! Semua terbahak riuh di tengah malam buta. ‘… ho oh ya, nanti pas rapat, sambil interupsi….ek, clethet, plung,….’ sahut mas Yudi sambil terbahak. ‘ itu sih bukan rapat, tapi ngising berja….’ lanjut pak Sapam ‘hiesttt…!’  potong mbah Rebo galak, ‘… berjamaah ki untuk yang baik-baik, mosok gituan kok dinamain jamaah……’ ‘anggota DPR itu apa ya gak punya toilet to di rumah? Urusan gitu aja kok digembol sampai kantor…’ sahut mbah Man. ‘weee, itu kan caranya pemerintah, untuk menekan kor...

Kekerasan

Saya itu lagi judheg.  Nonton TV itu mestinya membuat hati gembira, ha kok critanya dari hari ke hari tentang kekerasan. Ada yang demo anti-kekerasan eh lha kok yang muncul justru kekerasan juga. Mestinya kan konsisten, seperti yang dipopulerkan oleh Mahatma Gandhi tentang Ahimsa. Sore itu, saya yang kebetulan pulang sore, iseng-iseng menyetel tipi. Ha kok isinya tentang mahasiswa Makasar menyerang pos polisi. Pindah ke channel lain, ya gebug-gebugan lagi. Kali ini ceritanya berbeda, ganti polisi yang menggebugi anak-anak yang ‘lagi belajar’ jadi maling. Apa sih yang salah? Kok rasanya kita itu hanya cari-cari alasan untuk menggebugi polisi. Apakah ini ekspresi kekesalan pada polisi? Pada negara? Pada presiden? Lha nek yang dirusak itu lampu traffic light dan fasilitas umum lainnya, apa ya bukan kita sendiri yang rugi? Itu kan dibayar pakai uang pajak yang kita bayarkan juga? Dan… masyaallloooooh, pelakunya adalah (apa ya pantes kalau kita sebut) MAHASISWA?! Gara-gara itulah saya m...