Kekerasan
Saya itu lagi judheg. Nonton TV itu mestinya membuat hati gembira, ha kok critanya dari hari ke hari tentang kekerasan. Ada yang demo anti-kekerasan eh lha kok yang muncul justru kekerasan juga. Mestinya kan konsisten, seperti yang dipopulerkan oleh Mahatma Gandhi tentang Ahimsa. Sore itu, saya yang kebetulan pulang sore, iseng-iseng menyetel tipi. Ha kok isinya tentang mahasiswa Makasar menyerang pos polisi. Pindah ke channel lain, ya gebug-gebugan lagi. Kali ini ceritanya berbeda, ganti polisi yang menggebugi anak-anak yang ‘lagi belajar’ jadi maling.
Apa sih yang salah? Kok rasanya kita itu hanya cari-cari alasan untuk menggebugi polisi. Apakah ini ekspresi kekesalan pada polisi? Pada negara? Pada presiden? Lha nek yang dirusak itu lampu traffic light dan fasilitas umum lainnya, apa ya bukan kita sendiri yang rugi? Itu kan dibayar pakai uang pajak yang kita bayarkan juga? Dan… masyaallloooooh, pelakunya adalah (apa ya pantes kalau kita sebut) MAHASISWA?!
Gara-gara itulah saya malam Sabtu lalu jadi bulan-bulanan. Belum lagi saya duduk mapan dengan bersandar pada saka (tiang) utama rumah mbah Rebo, kok sang empunya rumah sudah menembakkan peluru yang mematikan.
‘nuwun sewu nakmas dosen… jan-jane yang diajarkan di perguruan tinggi itu napa to?’ tanya mbah Rebo.
Belum sempat saya buka mulut, sudah disambar lik Gambleh..
‘ya mestinya sing canggih-canggih… bangsanya kompiuter, basa enggres, tiori.. gitu kan mas?’ sambil menoleh ke saya memohon persetujuan. Saya hanya tersenyum hambar.
‘lha di perguruan tinggi itu apa ya tidak diajari budi pekerti, tata krama, anggah ungguh…’ lanjut mbah Rebo.
‘lha iya to kang, kok bolehnya pras pres, lempar batu, mecahin kaca… itu kalau polisinya ada pasti sisan digebugi…’ dukung pak Sar. Matanya tak berkedip melihat tipi. Saya lebih peduli pada jagung rebus.
‘…padahal sing namanya polisi itu kan ya rakyat kecil juga… dia kan hanya njaga keamanan, dia itu kan bekerja…’ dukung mbah Man. Para senior kayaknya berkoalisi mendukung pemrintah!
‘rakyat kecil apanya? Kayak gitu kok kecil?’ sambut lik Gambleh sinis, sambil menunjuk tipi. Di situ ada tayangan, Kapolri sedang berbicara pada pers.
‘ya kalau itu berbeda…’ sahut mbah Rebo
‘beda apane? Sragame padha kok!’ sambar lik Gambleh cepat.
‘sragame padha, ning kan pangkate rak beda… pira jal sing jabatane ngono kuwi? Gur siji to kuwi Kapolrine? Jal saiki polisi sing kaya si Wono, tanggamu lor omah kae pira? Okeh ndi?’ jawab mbah Rebo cerdas. Memang tetangga kami ada juga polisi yang hidupnya biasa-biasa saja, cenderung sederhana bahkan. Tapi harus diakui dia memang kayaknya polisi jenis langka. Ha piye? Pulisi kok alus, berbahasa krama halus kalau berbicara, grapyak, sopan, sregep ke masjid lagi.
‘lha iya to… apakah sekarang ini gak ada cara lain untuk menyuarakan aspirasi? Dikit-dikit demo, bengak bengok, bikin macet jalan. Belum lagi kalau ada gebug-gebugan…’ kini mas Toro yang bersuara.
‘mau menyuarakan aspirasi gimana, yang namanya DPR itu aja lebih sibuk studi banding daripada ngrungokne bocah bengak bengok…’ kini datang dukungan dari mas Yudi.
‘wajar to ya… tinimbang nemoni bocah demo sing hawane ngrusak gitu, kan ya enak plesir, dibayari sisan…’ lik Gambleh nyahut.
‘wajar kepiye to? Wong lepas tanggung jawab kok wajar…’ mbah Rebo terpropokasi rupanya.
‘aku ki gur manut sampean je kang,… DPR iku kan ya rakyat kecil juga, ia kan hanya bekerja, daripada kerja dengan risiko dipisuh-pisuhi, besarnya dibandhem watu, kan ya penak pilih mbutgawe sing penak, disangoni meneh…’ jawab lik Gambleh sekenanya sambil menyisil jagung rebusnya.
Lantas, kami pun mengudarasa tentang Pancasila, tentang jaman Orde Baru, tentang jaman kepenak, tentang the golden old ages. Tiba-tiba, mak grobyag… lalu dari kejauhan ada teriakan… ‘toloooong….ooeeeee… oeeeee… oeeee…’ tidak jelas benar apa yang dikatakan. Spontan kami semua menghambur keluar, syaraf saya menegang, pedang suduk pun sudah ditangan. Mas Yudi dengan sigap mencengkeram Linggis mautnya. Suara itu dari utara desa, kami pun segera bergegas ke arah suara berasal. Kami bergerak seperti pasukan infanteri bersenjata lengkap mulai linggis hingga pisau dapur! Semua siaga bertempur.
Rupanya, biang keributan malam itu adalah sapi mbah Ranto, mengamuk dan merobohkan kandang. Mungkin sapi itu kaget, ketika ada seseorang yang tiba-tiba berjongkok di dekat kandang. Orang itu adalah istri mbak Ranto sendiri yang kebelet pipis dan asal jongkok di dekat kandang sapi, yang memang ada di depan pintu butulan dapur. Untung saja tidak terinjak sapi marah!
Kami pun sepakat dengan meneruskan dengan berkeliling kampung, meskipun itu masih terlalu awal dari jadwal biasanya. Ronda awal tahun kami dimulai dengan kekerasan oleh sapi.
Komentar
Posting Komentar