2 Milyar
Barangkali risiko terbesar jadi propesi dosen adalah dipandang serba tahu segala hal. Mungkin bagi teman-teman ronda saya, dosen itu semacam buruh di pabrik ilmu pengetahuan. Jadi apapun yang aneh dalam nalar mereka hampir selalu dikonfirmasi pada saya. Yang paling akhir ya malam sabtu kemarin. Pemicunya adalah polemik tentang renovasi toilet seharga 2 Milyar. Pak Sar dengan lugunya membayangkan betapa pesingnya kantor DPR. Yang dia bayangkan, semua kursi di ruang rapat DPR diganti dengan toilet duduk!!! Semua terbahak riuh di tengah malam buta.
‘… ho oh ya, nanti pas rapat, sambil interupsi….ek, clethet, plung,….’ sahut mas Yudi sambil terbahak.
‘ itu sih bukan rapat, tapi ngising berja….’ lanjut pak Sapam
‘hiesttt…!’ potong mbah Rebo galak, ‘… berjamaah ki untuk yang baik-baik, mosok gituan kok dinamain jamaah……’
‘anggota DPR itu apa ya gak punya toilet to di rumah? Urusan gitu aja kok digembol sampai kantor…’ sahut mbah Man.
‘weee, itu kan caranya pemerintah, untuk menekan korupsi… itu bentuk transparansi…’ lik Gambleh mulai beranalisis
‘whaiyak, apa hubungane ngising karo korupsi… ngawur wae,’ sergap mbah Rebo, sang rival politik abadi.
‘lho kang… aja salah loh! Ha nek itu diajukan jadi anggaran untuk tunjangan toilet anggota dewan bisa lebih dari 2 M loh itu, itu pun belum tentu dibelikan toilet… lha kalau sudah disediain kantor gitu kan jelas etung-etungannya… transparan… satu toilet segini, kalo jumlah anggotanya segini, berarti duitnya segini...daripada kalau diberikan dalam bentuk tunjangan duit... kan itu lebih berpeluang diselewengkan untuk plesir-plesir atau rabi lagi?!’ terang lik Gambleh gak mau kalah.
‘tapi, apa ya sebanyak itu??’ tanya mas Toro.
‘ ho oh ya, apa ya satu toilet untuk satu anggota? Ha njuk nanti apa bedanya kantor DPR sama toilet umum kalo gitu? Kan toilet jejer-jejer banyak sekali…’ lanjut mas Kino yang kini mulai aktif lagi ikut ronda.
Rasanya sia-sia saja menjelaskan tentang toilet yang higienis, yang tidak najis, yang representatif. Ha wong itu sudah mereka antisipasi dengan sangat baik. Misalnya, tetang higienis dan najis, menurut mereka itu kan bisa dibersihkan secara rutin. Kalau ada anggota yang merasa masih merasa najis (ketika ke toilet),’… kan ya bisa wudhu sebelum masuk ke ruang rapat lagi…’ kata mbak Rebo.
Jangan-jangan ini sebenarnya cara orang kecil memahami para wakilnya di parlemen. Bagi mereka, rapat paripurna itu identik dengan buang hajat berja… eh rame-rame. Ha wong nyatanya yang keluar itu kebijakan aneh-aneh yang jauh dari harapan masyarakat.
Ah, tiba-tiba kok saya merasa ngeri.
Komentar
Posting Komentar