Rindu yang Islami

Sore itu saya sedang thenger-thenger, habis diupyek-upyek oleh sang propesor tentang konstruksi teoritis yang masih ngambang. Lha ya piye to, selama hidup itu saya kenal konsep ruang dan waktu hanya dua sisi: di sini dan di sana (bisa dekat bisa jauh); sekarang dan lain waktu (bisa kemarin bisa besok). Lha kok ini saya disuruh mikir ruangan interstitial, ning kana lan sekaligus neng kene, sekaligus ora neng kana ya ora neng kene. Piye ha ra ?! Apa tidak sampai kemut-kemut mumetnya?! Saya membayangkan tentang ngelmu semacam Kakang Pembarep Adhi Wuragil yang dimiliki Agung Sedayu dalam novel SH Mintarja itu. Orang bisa memecah diri jadi tiga. Lalu yang satu pergi ke masa lalu, satu tetap di sini, satu disuruh pergi ke masa depan. Gitu kali ya?!
Di luar titik-titik air hujan mengetuk-ngetuk jendela secara ritmis, menciptakan kesyahduan sekaligus kekawatiran. Syahdu karena gerimis itu katanya mengundang macam-macam, termasuk kegalauan, keromantisan, kerinduan, pokoknya yang bikin baper-baper lah kata anak muda sekarang. Kawatir itu muncul karena faktanya saya harus segera menjemput bidadari kecilku (yang sudah agak besar sih). Kalau tidak segera reda, kami terpaksa harus hujan-hujanan sekitar 15 kilometer.
Di tengah kesyahduan itu kok ya sesosok wajah yang tidak asing senyum di depan pintu ruangku, setelah mengetuk pintu.
‘assalamu ‘alaikum… mas Indy ada waktu sebentar?’ katanya sambil tersenyum. Dia tetap berdiri tegak kayak pengawal kerajaan Buckingham,Inggris, di depan pintu. Baru setelah aku persilakan dia pun melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di depanku.
‘ada apa e nok? Kok tumben jam segini belum pulang?’ tanyaku
‘Iya mas, barusan ada kuliah ekologi… ‘ katanya sambil membenahi duduknya
‘mas….’ katanya tiba-tiba.
‘apa?’ jawabku
‘mas, kenapa sih harus ada cinta, harus ada rindu?’ tanyanya lugas.
Weeelhadalah! Tiwas aku sudah menyiapkan diri untuk diskusi konsep pokok untuk skripsinya je, lha kok ini tanya tentang kenapa ada cinta?!
Sebagai advisor yang berpengalaman tentunya saya segera menangkap bahwa beliau sedang galau berat. Jujur saja aku tidak tahu harus menjawab apa, tetapi sekali lagi sebagai advisor yang baik tidak boleh terlihat konyol dong.
Maka, kutanya saja dia ‘emangnya kenapa dengan cinta dan rindu?’
Dia pun bercerita panjang lebar tentang cowok di kampungnya sana yang begitu disayanginya. Dan ujungnya si cowok itu tiba-tiba saja loskon (ini juga istilah gaul anak sekarang; lost contact) tanpa ada penjelasan. Dikontak pakai media apapun hanya dibaca tanpa balasan. Iya wajar sih, kalo dia jadi baper kek gitu tuh.
‘ya sudah, lupakan saja… emangnya cowok ganteng cuman satu itu saja …’ kataku seenaknya
‘iya mas, tapi orang yang itu lain…. Dia itu spesiyal…’ katanya tidak terima
‘spesiyal? Emang telur bebeknya berapa?’ tanyaku masih seenaknya
‘Ih mas Indy ini… saya serius paaaak… es-e-er-i-ye-u-es…’ dia mulai melotot. Aku tahu, dia serius galaunya hehehe
‘Gini ya nok… kamu itu cinta ya cinta saja, rindu ya rindu saja… itu hak mu, itu manusiawi, karena artinya kau punya pengharapan…. berharap sesuatu yang baik tentunya.... Terlepas itu ada tanggapan atau tidak… kamu harus bersyukur dan berdoa tuh ‘, lalu aku kumat gaya sok ngustadz-nya, setelah berpanjang kali lebar,’… jadi dengan pengharapan itu kan kau menjadi lebih dekat dengan Alloh, jadi banyak berdoa, iya gak? Itu cara Tuhan menambah pahalamu... kalo gak dibuat baper gini kau jarang berdoa kan?!’
‘iya mas…’ jawabnya jujur.
‘perbanyak saja doa, tapi doanya jangan maksa… contohnya doa maksa tuh gini.. Ya Alloh, kalo dia jodoh saya dekatkanlah, kalau bukan jodoh saya ya jodohkanlah kami… bukan gitu cara berdoanya hehehehe…’ kataku sedikit cengengesan.
Dia tertawa sejenak. Galaunya sedikit terhapus.
‘yang penting tuh… kalau cinta pada sesuatu, entah itu orang, entah itu barang, janganlah itu mengalahkan cintamu pada Alloh… Cinta dan rindu yang barokah itu adalah yang dengan mencintainya membuatmu meningkat secara kualitatif. Jadi makin tekun belajar, makin rajin ibadah, makin toleran, makin berserah diri, makin optimistik…. Bla bla bla bla…’ aku pun semakin semangat berkhutbah.
Dia hanya mengangguk-angguk, meski di sudut matanya masih terlihat kalau ia tidak dhong betul dengan isi ceramahku.
Kadang yang namanya khutbah itu kan hanya untuk didengarkan saja. Ngantuk boleh, tapi gak boleh bertanya.
Salam Jumat barokah
My Office Box, FIB, 2122016

***terima kasih mbak Suryani Titi Astuti atas sumbangan judulnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE