Bocah Tua Nakal

Ini masih ada kaitannya dengan cerita bom buku kemarin. Mbah Rebo sebagai calon enterpreneur ayam binaan pemerintah itu merasa sangat beruntung, justru karena tidak menuruti saran LSM pendamping. Salah satu persoalan mendasar dalam pengembangan usaha kecil dan menengah adalah sifatnya yang tidak bank-able. Oleh karena itu, setelah diajari menghitung aset dan sebagainya, melengkapi dokumen ini itu, mendaftar ke dinas, mereka didorong untuk menjadi sebuah badan usaha. Dengan status itu mereka boleh mengajukan kredit ke bank. Padahal, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa yang namanya usaha kecil itu kan cuma escaping hole-nya orang kecil menyiasati terbatasnya lapangan kerja dan penghasilan (meski sering pula escaping hole itu menjadi sumber utama pendapatan rumah tangga!).

Mbah Rebo itu juga termasuk salah satunya. Kebetulan ada saudara yang sukses ternak ayam, makanya beliau menjadi anak asuh saudaranya itu. Dia hanya menyediakan bangunan dan tenaga memelihara. Kuthuk dan pakan sudah dikasih, dan nanti kalo panen sudah ada yang mengambil. Jadi jelas bahwa usaha itu bukanlah usaha milik sendiri. Makanya, ketika dia diminta jadi nasabah bank, dia menolak mentah-mentah.
‘apane sing arep dibangke? … kalau ada untung dikit kan ya dipakai untuk memenuhi kebutuhan… miara ayam itu kan untuk memenuhi kebutuhan….’ katanya bak ekonom substantivis bersemangat, ‘kalau ke bank segala itu ribet, harus ngonthel, antri,… penak dijepitke dibawah kasur… mau butuh sewaktu-waktu tinggal ndudut….’ Saya lantas ingat bapak kostku di Klaten saat penelitian, seorang peternak sapi perah, yang dengan enteng menarik uang 12 juta dari alas tempat duduk jelek di sudut ruangan.
‘belum lagi kalau ditilep tukang e bank ya mbah?’ mas Toro nambahi.
‘lha… ya kuwi meneh…’ sambar mbah Rebo cepat.
Lantas diskusi bergeser ke  Malinda Dee, dan penipuan perbankan. Komplit dengan modus dan tentu saja analisis yang dikembangi dengan versi nJarsari yang seringkali menjadi terlalu canggih. Bayangkan, katanya orang itu tidak perlu kartu ATM untuk mengambil uang kalau pin-nya sudah diketahui… ada kode-kode tertentu yang dipencet… lalu duit keluar sendiri.
‘wong ayu-ayu gitu kok bisa nilep duit ya pak?’ tanya mas Yudi
‘…padahal gajinya aja sudah 70 juta sebulan, tiap 3 bulan terima bonus 250 juta… itu untuk apa ya?’ sambung mas Toro
‘Ha nek nggo urip di nJarsari sini kan duit segitu itu sudah gak perlu kerja lagi…’ seperti biasa lik Gambleh berandai-andai. Ia berhitung hidup di Banjarsari itu sehari paling banter hanya perlu 20 ribu. Itupun sudah makan enak, lawuh iwak!
‘ha lah… neng nJarsari ki kon urip karo kowe ngono pa??’ sergah mbah Rebo ganas.
‘ha mbok menawa gelem…’ jawab lik Gambleh cengengesan.
‘arep kok pakani apa? Bangsa wong ngono kae ki ra doyan sega aking karo gereh le…’ mbah Rebo tambah ganas. Lantas dia kojah banyak tentang makanan orang sugih (tentu saja menurut imajinasinya yang terinspirasi tipi): komplit bin pepak-an ada hamburger, ada daging sapi bakar dari Jepang yang kalo masuk mulut lantas dengan sendirinya lumer, minumnya yang ketika masuk tenggorokan hanya terasa esis mak klenyer, makanan ditutup dengan es krim yang anyep-anyep mak legender. Naik mobilnya nggleses tidak ada suara dan tidak berguncang meski melewati jalan berlubang. Dan, imajinasi itu diakhiri dengan…
‘… opahmu seket ewu sedina ki gur nggo sogok upil leee….’ katanya sambil tertawa mengejek lik Gambleh pol-polan. Lik gambleh diam saja, dan kelihatan tersinggung dia. Dia itu kan tergolong tukang batu kelas elit. Ha wong reputasinya hebat je, semua rumah tembok di nJarsari itu dia yang bikin.
‘sawang sinawang lah mbah, kayak gitu itu…’ saya mencoba menurunkan tensi
‘leres niku mas dosen…’ lanjut mbah Man,’…mboten maido kok niku. Nek ten ndusun seperti kita ini uang itu memang susah dicari, tapi juga aji (berarti). Di sini 2500 itu sudah dapet soto komplit. Di kota paling hanya untuk parkir sekali to itu…’
‘sing penak itu ya mas dosen itu… kerjanya di kota, gajinya kota, hidupnya di desa…hahahaha’ tembak lik Gambleh. Kena deh saya!
‘… tapi kan ya menyesuaikan nggih mas nggih… di desa pun kan ya gak mungkin to dosen kok nyumbang sama dengan umumnya masyarakat sini… kalau orang sini itu 30 ribu, mestinya nyumbang ya lipat beberapa kali…’ kali ini yang sumbang saran pak Sar. Mbukak rahasia ini! Rupanya sumbangan kaum priyayi itu dititeni juga.

Setelah diam beberapa saat.
‘duit 20 milyar ki seberapa ya?’ gumam mbah Rebo tiba-tiba
‘ngapa je kang?’ tanya pak Sar.
‘ning ora maido dhing… nek duwe duit akeh ki isa ngapa-ngapa kok, umur 46 tahun we isa ketok kaya 26 tahun’ mbah Rebo menggerendeng sendiri. Kayaknya dia masih membahas Malinda.
‘muda setahun satu milyar… berarti sampean butuh 45 milyar kuwi lik, ben isa kaya bocah 17 tahun… hahahaha’ lik Gambleh makin liar menembak mbah Rebo.
‘ning ngko gek itu gur luarnya saja… hahahah’ mas Yudi pun ngombyongi.
umpan itu langsung disambar pak Slamet, dengan sebuah pernyataan yang menegaskan, '... ngko gek onderdil njerone jebul peyot...'
Obrolan para bapak itupun makin nakal.
‘Njenengan jik empan napa mbah?’ tanya mas Toro sambil cengengesan.
‘Ha nek diemat-emut ngko rak ya suwe-suwe empuk… ‘ jawab mbah Rebo enteng.
Padhakke krupuk wae?! hahahahahahahahaha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE