Motor dan Karl Marx
Awalnya hanya membicarakan motor baru, namun obrolan malam sabtu lalu pun menjadi agak sensitif. Gara-garanya mas Sapam yang ngedhunke atau membeli sepedah montor matik baru. Saya pikir ya pantas saja orang membicarakan itu, ha wong proporsi motor dan isi rumah itu mencapai 75 persen. Anggota rumah tangga itu 2 orang dewasa dan 2 anak yang masih duduk di kelas 2 dan kelas 1 SD; ha kok ada 3 motor di rumah itu?! Kesenjangan semacam ini kan merangsang minat meneliti siapapun to?
‘arep nggo apa ngedhunke montor meneh ki?’ tanya mbah Rebo, seakan mewakili kami semua.
‘mumpung ada kreditan murah je mbah,’ jawab mas Sapam,’.. lagian sing lawas itu sudah tidak pantes kalau dipakai nyumbang… yang satunya itu montor perempuan, kecil, gak muat kalau bawa 4 penumpang…’
‘kok elok… montor aja ada jenis kelaminnya segala…’ sahut lik Gambleh sinis.
‘montor nggo nyumbang dhewe, untuk nganter anak ada sendiri, untuk cari rumput ada sendiri… ckckck’ sambung mbah Man.
Memang, di kampung kami tercinta, yang namanya sepeda motor itu sudah mengalami overpopulasi. Hampir semua rumah punya montor, dan lebih dari separuh pemilik montor memiliki lebih dari satu montor. So, bukan aneh, kalau hanya untuk kenduri ke rumah tetangga yang jaraknya kurang dari 50 meter saja orang pakai montor.
‘tapi,perasaan makin hari kok makin banyak orang pakai motor tu yang byayakan? Salip sana salip sini. Tidak teratur betul,’ sahut pak Tom
‘betul pak, apalagi setelah banyak motor matik itu, saya kok melihat perempuan-perempuan itu sekarang kok makin ngebut naik motornya…’ lanjut saya (Kalau dibaca teman aktivis perempuan bisa diprotes nih saya hehehe).
‘…dan makin ngawur ngambil jalannya,’ tuntas pak Ucup.
‘ya…itu kalau menurut panjenengan-panjenengan yang punya mobil…’ balas mbah Rebo.
Mak dheg… gawat ini. Kok kebetulan yang komplain ttg motor itu kami yang bermobil semua. Lantas ada pengelompokan: Kami… anda… sebuah pengelompokan antropologis yang bermakna banyak: kelas mobil dan kelas montor. Isu diferensiasi kelas ini kan dekat-dekat dengan paham Marsis to?!
‘ya nggak mbah, saya juga punya motor kok… mas Ucup, pak Tom, juga…’ saya mencoba menetralisir.
‘ya beda… tiap hari panjenengan semua kan lebih banyak pakai mobil daripada montor… itu yang membuat perbedaan cara pandang atas peristiwa di jalan,’ mbah Rebo ngotot dengan pengklasifikasiannya.
‘ya njenengan ya jangan protes… ha wong hanya itu je caranya orang kecil mengikuti jaman,’ lanjut mbah Rebo,’…sekarang ini jamannya harus cepat dan harus mampu menjangkau jauh… kalau tidak cepat, kita kalah sama tukang dari mBantul… kalau tidak mau jauh, kita tidak punya lagi kesempatan kerja yang dekat-dekat sini…. ini soal kendhil mas dosen’
Lantas ia menjlentrehkan panjang lebar tentang lahan pertanian yang tidak bisa diolah sepanjang tahun, lalu merembet ke sektor tukang batu sebagai salah satu sumber pendapatan, lalu kesempatan kerja yang semakin sempit, persaingan, dan sebagainya. Intinya orang bermotor yang ngebut dan byayakan itu tidak boleh disalahkan. Itu adalah bagian dari strategi partisipasi orang kecil untuk terlibat dalam kompetisi memperebutkan sumberdaya ekonomi. Dus, kalau tidak byayakan, mereka tidak akan mendapatkan bagian kue ekonomi.
‘…. Jadi, ya jangan menyalahkan orang ngebut dan sedikit byayakan itu… yang penting kan slamet to?! Kan ya kita semua cuma itu yang diharapkan… pulang sampai di rumah lagi ketemu anak istri dalam keadaan slamet, waras-wiris,’ pungkas mbah Rebo dengan mantab.
Kami hanya bisa manggut-manggut mendengarkan ‘khotbah’ mbah Rebo yang kali ini kayaknya kelebon rohnya Karl Marx. Tidak sepatah pun bantahan keluar dari mulut kami.
Komentar
Posting Komentar