Bandung, Bumi Periangan

Seumur-umur baru minggu lalu lalu saya merasa super panik gara-gara nyaris kepancal sepur alias ketinggalan kereta. Gara-garanya adalah salah ambil lokasi parkir inap mobil. Ceritanya kan kami sekeluarga (tentunya juga beberapa keluarga lain)  ini mendapatkan kanugrahan dari CRCS dipiknikkan ke mBandung. Naik sepur rame-rame.  Kami sebenarnya sudah berangkat dari ndalem Njarsari jam 8.30, karena dihimbau untuk siap di stasiun jam 9 dan kereta berangkat jam 9.27. Mestinya saya sadar bahwa pertama: sekarang adalah musim liburan; kedua, jalan raya bukanlah milik embah saya; sehingga saking padatnya jalan saya sekeluarga baru sampai di peron selatan stasiun tugu jam 09.20. Yang membuat kecut adalah informasi bahwa parkir inap mobil ada di parkir timur. Setelah drop anak istri, segeralah saya tancap gas. Alhamdulillah, sampai juga dalam waktu 5 menit. Harap tidak ditanyakan bagaimana cara saya melintas di Pringgokusuman, bunderan Samsat, Bumijo, hingga parkiran timur stasiun Tugu!

Terus, yang bikin makin panik adalah ada kereta eksekutif yang juga baru masuk bersamaan dengan saya parkir, lalu ada telpon dari istri. Tanpa mikir apa-apa lagi, saya lari sprint. Saya tidak tahu berapa detik catatan waktu saya. Yang jelas setelah pakai acara melompat pagar, saya pun sampai di jalur kereta dan… pas, si Lodaya datang. Saya tidak tahu apakah saya harus berterima kasih atau kesal dengan ‘keterlambatan kereta’ yang  2 menit itu. Yang jelas, begitu kereta jalan, saya pun tertidur pulas, dan sesampainya di hotel saya mengikuti saran om Endy Saputra untuk segera melakukan ritual raja-raja alias kungkum air hangat.
Bagi saya, atraksi yang paling menarik adalah ketika ke Parijs van Java. Begitu masuk, saya kaget sekali, lha kok persis seperti pertokoan di Arnhem, Nijmegen, Wageningen, Amsterdam, kalau Paris sih gak usah dibilang wong namanya saja sudah diserap. Jalannya, toko-tokonya, merek-mereknya, hingga tulisan ‘SALE’ di atas kertas kuning yang ‘persenan’-nya besar besar… Sale 40%, 50%, 70%. Edan tenan.

Bagaimanapun tulisan SALE itu tadi merangsang urat gatal para istri sedunia, termasuk istri saya. Beliau pun masuk dan tidak lama kemudian keluar lagi dengan tersenyum kecut.
‘ha kok okeh men nol e yah?!’ katanya panik. Saya hanya tertawa. Saya hanya membatin, yang dijual itu kan barang yang sejenis yang dijual di Eropa sana, dus harganya pun saya tahu persis. Persoalannya kemudian kan perbandingan nilai uang, alias persoalan angka ‘0’ tadi itu. Kalau di Eropa sana tidak pakai ‘0’, di sini pakai ‘0’ empat biji.

Bagi orang Jawa Indonesia pinggiran seperti kami, angka ‘0’ itu berarti sangat banyak. Ia bisa berarti beras, minyak goreng, susu, modal usaha, biaya sekolah, seragam sekolah, bensin, dsb. Sambil berjalan, istriku bergumam,’… tas cangklong cilik we kok harganya bisa untuk daftar ulang Ufi dan Zidan sekaligus?! Padahal katanya sudah diskon loh…’
‘sabar bun… suk nek saya sudah kaya tak belikan 24 biji deh…’ kataku menenangkan. Si Bunda hanya menjeb.
Jadilah kami berputar-puter menyusur lorong-lorong bawah tanah Parijs van Java dan hanya dapat sebiji flashdisc, yang menurut saya jauh lebih murah daripada di Jogja. Ternyata kawan-kawan kami pun melakukan hal yang serupa. Mereka membeli sesuatu yang juga ada di Jogja: ada yang beli air mineral, permen, makanan kecil. Yang repot tentunya adalah yang punya anak bayi. banyak yang merengek dibelikan mainan. Entah karena malu atau apa, dibelikanlah dia. Harganya? Jangan ditanya deh, harga satu mainan mobil-mobilan plastik kecil itu setara dengan dua kresek besar mainan yang dibeli di Giwangan hehehehe

Oalah tuan kapitalis, sampean itu kok ya tega-teganya, mbok ya lihat-lihat to? yang manusiawi gitu napa?… jualan ya jualan, tapi ya jangan banyak-banyak ‘0’ nya. Lihatlah daya beli kami. Kalau kayak gini ini kan membuat panas dalam?! Ah, saya baru ingat, mBandung ini kan bumi Periangan, bukankah itu juga berarti tempat yang selalu bisa membikin badan meriang!!!??

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE