Jalan Keluar
Topik yang sedang in pada bulan-bulan Mei Juni Juli adalah sekolah. Di mana-mana yang dibicarakan adalah ‘sekolah yang baik’. Beruntunglah kami yang belum memiliki anak usia liminal alias peralihan, meskipun kami pun sadar bahwa acara berburu sekolah (harap jangan dibayangkan sekolahnya lari, mlumpat-mlumpat seperti anak kambing yang lagi berlatih berlari heheheh) suatu saat datang juga pada diri kami. Trending topic ini juga sempat mampir ke kelompok ronda kami.
‘paling besok si Monah sekolahnya di SMP candi atau nJangkang saja… yang dekat,’ kata lik Gambleh sambil menyisil kacang rebus.
‘ya situ itu termasuk sekolah bagus juga kok…’ lanjut mbah Man, yang cucunya sekolah di SMP candi
‘sing bagus tu yang bagaimana je? Sekolahane yang bagus apa kepiye?’ sergah mbah Rebo
‘ya sing sering juara gitu loh mbah murid-muridnya… mosok milih sekolah kok pertimbangannya gentengnya bagus tidak, cat nya kusem tidak…’ kali ini pak Sapam yang menjawab.
‘ we lha, genteng, dinding, ki penting juga loh… lha apa tidak kuwatir kalau anak cucu disekolahkan di tempat yang ternitnya bisa ambrol sewaktu-waktu…’ mbah Rebo mulai ngeyel.
‘ing ngatasnya bocah ndesa, SMP ndesa, anak SMP Candi itu jadi nomer dua tingkat kabupaten…’ lanjut mbah Man. Semua serentak diam, menoleh ke mbah Man yang justru asyik dengan kacang rebusnya.
‘weh, lomba apa itu mbah?’ tanya pak Sapam
‘…tarik tambang…’ jawab mbah Man santai.
‘entah pak kalau saya kok belum punya rencana,’ gumam mas Toro, anaknya baru akan naik ke kelas 5 SD Sembung,’ ha disuruh sinau itu angel sekali je!’
‘wah, sama mas, anak saya juga begitu. Disuruh belajar malah tidur, sukanya nonton tipi, tipi, terus.,’ sahut mas Kukuh, anggota baru kelompok ronda kami’… tapi anehnya kok ya dapet rangking terus dia itu.’ Anaknya, si Andi, akan ngancik kelas 6 tahun ini di SD Wonosalam, utara kampung kami.
Saya tidak tahu ini bermuatan kebanggaan atau keluhan.
‘mboten diikutkan les apa gitu?’ tanya saya
‘wah duite darimana pak? Lagian tidak pakai les-lesan saja sudah rangking 6 kok dia itu!’ jawab mas Kukuh mantab. Saya dan mas Toro hanya manggut-manggut.
Belakangan saya dengar, siswa sekelas Andi (anak mas Kukuh) berjumlah 14 orang saja. Sedemikian berartinya rangking bagi orang kecil? Rangking 6 di antara 14 orang sudah dianggap hebat? Kok sepertinya dunia orang kecil itu hanya seluas mBanjarsari dan Wonosalam semata?!
Pas berkeliling untuk mengambil jimpitan dengan lik Gambleh, saya mencoba mempersoalkan rencana sekolah anaknya. Jawabnya ternyata sederhana sekali:
‘ya kalau tidak diterima di SMP itu ya nanti saya masukkan pondok saja, 3-5 tahun di situ kan sudah katam kitab. Pulang ke sini, paling sudah ada yang mau menjadikan dia menantu hehehe… dimodali sapi dua kan ya cukup to pak? Wong saya saja dulu hanya dimodali kambing 2 sama bapak saya, nyatanya ya anak saya ya mentas semua, tinggal si ragil itu!’ katanya optimis.
Saya pun tidak jadi pesimistik. Antara dunia yang sempit, kesempatan yang terbatas, selalu ada plan B. Selalu ada jalan keluar.
Komentar
Posting Komentar