Ruwah dan Pembajakan

Antropolog itu secara akademis selalu mengklaim sebagai orang yang paling dekat dengan subjek yang diteliti. Apalagi kami ini kan dilatih dengan metode observasi partispasi yang diagul-agulkan dalam menyelami sisi-sisi yang paling dalam kehidupan si subjek. Jadi secara yuridis formal, kami ini sah untuk melakukan klaim akademis itu.

Akan tetapi, kali ini ijinkanlah saya mengakui kesalahan interpretasi. Ini berkait dengan tulisan saya tentang ‘Ruwah’ yang saya posting kemarin. Kemarin saya mengklaim ‘ruwah’ itu bukan berakar pada bahasa Arab, ternyata itu salah. Kemarin sore mbah Kaum pas hadir di serial kenduri VII di rumah mbah Joyo menjelaskan panjang lebar, bahwa ‘Ruwah’ itu berasal dari kata ‘Arwah’. Jadi bulan Ruwah adalah bulan khusus Arwah. Oleh karenanya, kegiatan-kegiatan yang dekat dengan arwah, makam, doa, kenduri, kirim luwur, baik sekali  dilakukan pada bulan ini. Penjelasan ini bagaimanapun juga menyokong pandangan saya tentang dominasi Islam dalam kultur jawa.

Syahdan, kemarin sore itu, baru saja saya mematikan mesin Kiai Pesot, sudah ada sesosok pemuda (namanya si Blug, karena badannya gendut) sudah menunggu di belakang kendaraan saya. Ia ini adalah salah satu andalan kampung kami untuk urusan undang-undang (ini bukan persoalan kebijakan atau apa, akan tetapi menyampaikan undangan).
‘pak, niki rebat cekap mawon nggih,’ katanya membuka percakapan. Bibirnya agak gemetar, agak grogi juga dia kayaknya berhadapan dengan priyayi antropolog,’… pak, panjenengan diken teng nggen e mbah Joyo, dikiran, jam 4. Terus jam 5 teng nggen e mbak Iyat…’ lantas berpamitan. Walah bocah jaman sekarang!? Maunya berbahasa halus malah salah kamar. Ha mosok, priyayi kok ‘dikengken’, disuruh?! Hehehe.  

5 menit setelah si Blug berlalu, datang lagi si Komar, menyampaikan hal yang sama… tetapi kali ini lebih pas. Ia memang lebih pandai berbahasa halus. Ia pun berbasa-basi  ttg silaturahim dsb, sebelum mengatakan, ‘pak Agus mangke jam 4 diaturi rawuh wonten dalemipun mbah Joyo saperlu dikiran…’ saya tidak tahu apakah ini ralat atau sekedar overlap tugas.

Jam 4 lebih 3 menit saya sudah duduk di ruang tengah rumah mbah Joyo. Hampir semua undangan sudah datang, eh lha kok pak Kaumnya belum datang hingga jam 4.15. Usut punya usut ternyata mbah Kaum sudah dijemput duluan ke rumah mbak Iyat. Akhirnya pak Panut, anak mbah Joyo pun, ‘merebut’ mbah Kaum dari rumah mbak Iyat. Tanggap akan adanya kekisruhan jadwal itu, mbah Kaum pun langsung tancap gas memulai acara. Para peserta pun lebih heboh… bacaan ‘Laa illahailalloooh’ yang biasanya ritmis itu jadi seperti derap kuda berpacu… laa illahaillalloh… la illahaillalloh… theplak theplak theplak… seluruh rangkaian yang biasanya makan waktu 45 menit selesai hanya 20 menit. Itu sudah termasuk makan lontong tahu!

Selesai itu kami pun pulang tergesa. Hanya meletakkan berkat di atas meja dapur, saya pun segera berangkat lagi. Olala, ternyata di rumah mbak Iyat massa yang lebih besar jumlahnya sudah menunggu karena juga dari kampung sebelah yang diundang. Konon mereka diundang jam 4.30. Masalahnya, lagi-lagi mbah Kaumnya raib!
Jam 5.20, mbah Kaum datang, namun sepertinya ‘dijemput paksa’ oleh kakak sulung mbak Iyat. Rupanya dari rumah mbah Joyo, mbah Kaum ‘dibajak’ ke rumah mbah Sosro untuk sekedar mendoakan sadranan dulu. Apalagi beberapa saat setelah itu mbah Sosro datang dengan satu bungkusan besar, berkat untuk mbah kaum yang belum sempat diberikan! Begitu tahu sudah ditunggu jamaah banyak,mbah Kaum pun tergopoh-gopoh segera menempati posisi yang sudah disiapkan baginya. Ia pun segera memulai.

Namun, mungkin karena kurang fokus tergesa-gesa dia pun salah-salah menyebut. Untung ini acaranya hanya genduri biasa. Ia mengutarakan niyat keluarga itu bahwa dua hari ke depan akan punya gawe menikahkan anak. Biasanya mbah Kaum akan menjelaskan satu-satu makna makanan dan ubarampe yang ada:  ada berbagai macam jenang untuk menghindarkan sengkala, nasi golong, bunga-bungaan, jajan pasar dan sebagainya. Dia hanya bilang begini (ini translasi literal dari bahasa jawa)

‘ingkang setunggal angsahan menika jenang-jenangan… kangge nandangi sengkala bla bla bla… mandhap malih dumateng angsahan among, saya belum membuka, maksudnya untuk kiai among nyai among, agar mengemong keluarga ini dalam pelaksanaan gawe… mandhap malih dateng angsahan baro-baro, wonten… ana apa wae kuwi… ‘… kontan semua peserta pun kehilangan kekhidmatan dan tertawa. Singkat kata, pas adzan Magrib berkumandang kami pun sudah selesai berdoa dan dibagikan besek. Ketika pak kaum belum selesai dengan pidato penutup… kami yang duduk di luar, langsung serempak berdiri sambil berteriak,’nggiiiiiih..’ lalu kerumunan pun bubar dengan hiruknya.

Ah saya jadi berpikir tentang ritual. Selama ini kan ritual selalu dipandang sebagai hal yang khidmad dan penuh kedalaman makna bagi penganutnya. Kali ini kok beda. Rasanya itu hanya komplit-komplitan, wangun-wangunan, yang penting ada dan dilaksanakan ramai-ramai. Dus, itu kayaknya tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Ha wong di tempat kami tetangga yang Kristen dan Hindu juga diundang kok. Mereka juga duduk di dalam rumah, meski hanya diam saja ketika kami sedang heboh ber-laa illahailalloooh.

Saya masih sempat melihat mbah kaum pulang diantar pulang diboncengkan motor, ditangan beliau genteyongan 2 besek besarplus satu besek lagi di gantungan motor! Konon nanti habis magrib beliau diminta memimpin dikiran juga di kampung sebelah. Bulan ini dalam kerentaannya mbah kaum jadi selebritis agama di kampung kami, diseret sana sini. Lohkawolowolokuato!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE