Mujahadah (lagi)
Mungkin saya itu orang yang terobsesi oleh novelnya Umar Kayam ‘Para Priyayi’. Setidaknya itu pandangan istri saya. Ha ya bagaimana lagi, yang jelas namanya keindahan sore hari itu kan diciptakan Alloh untuk dinikmati dan disyukuri. Lha cara saya bersyukur terhadap anugerah keindahan itu adalah dengan klekaran di teras. Acara itu semakin laras dan nges ketika ditemani segelas teh manis anget, koran, dan gorengan. Transisi dari siang (kerja) ke malam (istirohat) kan perlu ada masa peralihan yang mulus. Dalam banyak kebudayaan, masa peralihan itu disebut masa liminal, yang dimaknai dengan bahaya. Oleh karena itu, kata Van Gennep, perlu dibuatkan ritual atau slametan. Biar orang yang mengalami perubahan itu selamat dan sukses melampaui proses itu.
Begitulah, hampir setiap sore, ritual itu tersaji di depan rumahku. Lha kok, sabtu sore yang lalu, tanpa dinyana tanpa diundang, pakdhe Karso Ngali seorang tetangga jauh tiba-tiba saja kok ikut ngelesot di teras rumahku. Padahal jalur jalan depan rumahku bukanlah jalur yang umum beliau lewati.
‘atur kasugengan nak mas dosen,’ salam beliau
‘alhamdulillah, dospundi sak konduripun pakdhe? Ha kok njanur gunung, tanpa hujan tanpa angin saya kejatuhan mbulan jengandika kersa mampir,’ jawab saya
‘hehehehe… mbulan itu nek kinyis-kinyis, kempot begini kok dibilang mbulan to mas dosen ini?!’ sahutnya. Kami pun tergelak.
‘nuwun sewu, maaf nak mas. Kalau tidak ngrepoti loh ini…’ dia berhenti sebentar. Saya deg-degan betul menanti kalimat berikutnya. Soalnya seringnya kalau sudah pakai kata ‘nuwun sewu’ dan ‘ngerepoti…’ itu artinya mau pinjam uang. Sudah jamak lumrahnya, pegawai priyayi dosen itu dianggap sebagai orang yang selalu punya duit.
‘…anu… punya informasi tentang dimana diadakan mujahadah?’ lanjutnya. Wealaaaah, tiwas jantung saya berhenti berdenyut, ha kok jebulnya hanya tanya tentang tempat mujahadah. Hampir tertawa saya, namun melihat keseriusan wajahnya saya jadi tidak tega.
‘ini loh nak mas… si gendhuk Yatinem itu kan mau ujian unas… gimana lah biar dia itu bisa lulus!’ lanjutnya.
‘nek mau lulus kan ya kudu sinau to pakdhe? Kok malah mau ikut mujahadahan segala’ telisik saya
‘ sudah, tapi entah mungkin anak saya itu bodohnya kebangeten atau gimana kok rasanya dia itu selalu ketinggalan sekolahnya. Ha wong teman-temannya itu pada sudah bawa-bawa internet, bawa leptop...lha saya kan ya mikir, darimana dapat duit untuk beli laptop… apa memang garisnya orang kecil itu selalu ketinggalan begini?!’ lanjutnya setengah ngresula. Nadanya menggerantas betul (maaf, bahasa Indonesianya ‘Nggrantes’ itu apa ya?!) . Dia pun menegaskan kalau perlu dia mau membayar untuk iktu mujahadahan itu.
Lha kok elok, kekalahan di bidang teknologi kok ditambal dengan mujahadah?! Ini perspektif yang menarik. Ujian nasional itu kayaknya ditempatkan sebagai situasi liminal, dan dalam perspektif lokal itu hanya dapat diatasi dengan campur tangan Tuhan. Dalam konteks ini mujahadah menjadi penting maknanya, sama pentingnya ketika acara itu dilakukan pada masa erupsi Merapi, pada musim ulat bulu, dan sebagainya. Mujahadah dalam hal ini seperti obat suplemen yang sering dipasarkan oleh agen MLM, yang digambarkan mampu mengatasi segala penyakit mulai dari jerawat hingga kanker. Ia adalah jawaban yang dimiliki oleh orang kecil untuk menanggapi ketidakpastian.
Tapi, apakah itu hanya khas milik orang kecil di pedesaan? Konon kabarnya di Jakarta, kota besar, ada juga tuh sekolah yang melakukan mujahadah hingga semalam suntuk, khusus agar anak-anak yang bersekolah di situ lulus semuanya?! Piye njuk an?
Yang jelas, sore itu, saya sedih karena tidak bisa memberikan jalan keluar. Ya gimana lagi, saya bukan panitia mujahadah je. Aku hanya bisa berdoa, semoga Yatinem dan semua ‘Yatinem-Yatinem’ lain yang sedang menempuh UNAS semuanya lulus dengan membanggakan.
Komentar
Posting Komentar