Ruwah 1

Saya tidak tahu pasti asal kata ‘Ruwah’ akan tetapi jelas bahwa ini adalah nama lokal dalam penanggalan Jawa. Penanggalan Jawa memang unik, ia adalah bukti akulturasi yang hebat antara Jawa dan Islam (atau mungkin lebih tepatnya Islamisasi kebudayaan Jawa). Lihatlah nama bulan berikut: Sapar, Mulud, Bakdo mulud, jumadil awal, jumadil akir, rejeb, sawal, dan dulkangidah, yang merupakan adaptasi lokal terhadap nama bulan dalam penanggalan Arab. Akan tetapi, lihat juga ada juga bulan Besar, Sura, Ruwah, dan Pasa, yang lebih bernuansa lokal.  Saya tidak tahu persis mengapa ‘Ruwah’ lebih populer daripada ‘sya’ban’. Yang jelas nama bulan Jawa itu bermakna sesuatu: Besar = bulan sumbangan; Pasa = melakukan ibadah puasa; Sura = bulan wingit dan penuh larangan. Lha kalau Ruwah???

Bagi saya pribadi ‘Ruwah’ itu kok kedengarannya mirip dengan ‘mBruwah’ yang berarti ‘melimpah’. Yang saya rasakan bulan Ruwah ini adalah bulan yang memang melimpah. Bayangkan, kalau biasanya orang tahlilan itu kan hanya kalau ada peringatan kematian seseorang, pada bulan ini banyak sekali tetangga saya membuat acara tahlilan. Semalam tahlilan dua kali adalah hal biasa. Itu juga berarti adanya berkah yang melimpah di kampung kami. Selain berkah pahala dari Alloh, tentu saja kepulangan kami disangoni berkah material yang isinya rata-rata seperti ini: setengah kilo beras, setengah kilo gula, satu bungkus the, satu butir telur (mentah), dua bungkus Indomie Soto Ayam, sebiji buah pisang ambon, 2 buah roti isi coklat, dan sebungkus nasi  gurih dan suwiran ingkung ayam plus sekepal nasi golong (nasi yang dipadatkan dalam bentuk bola, sebesar bola tenis). Perkiraan saya, sebungkus berkat material itu seharga setidaknya Rp. 20 ribu per paket. Lha kalau di kampung kami saja ada 103 KK, kan berarti ada sejumlah Rp. 2060000… Huuaaaaaa???? Ini jumlah yang tidak sedikit kan?

‘mbah, jane asal kata Ruwah dari bahasa apa to sak jan-jannya?’ tanya saya ke mbah Rebo pas ronda di rumah mas Yudi Linggismaut malam sabtu yang lalu.
‘wah duka mas dosen, saya tidak tahu,’ jawab mbah Rebo
‘ha kok terus banyak kondangan tahlilan…’ lanjut saya
‘kalau itu hanya naluri simbah-simbah dulu… kalau bulan ruwah itu katanya bulan untuk bersih bersih diri sebelum bulan puasa datang…,’ setelah menghela napas sejenak,’… bersih bersih itu ya lahir ya batin… makanya orang-orang pada bersih-bersih rumah, makam, dan nanti puncaknya ada padusan… mandi membersihkan diri.’ jawab mbah Rebo.
‘hubungannya dengan tahlil?’ saya makin penasaran
‘tahlil itu kan bacaan untuk membersihkan diri to mas dosen… sekalian kirim leluhur…’ jawab mbah Rebo lagi
‘ya nek membersihkan diri ya mandi ya pak… hehehe… pak agus ki ikut tahlil terus ya tetap saja hitam hehehe… ngapunten loh pak heheheh,’ sahut lik Gambleh yang rupanya ikut menyimak.
‘huss… kowe ki, sulaya wae…,’ bentak mbah Rebo, agaknya mulai terprovokasi. Sejurus kemudian dia menjelaskan kalau pada bulan Ruwah itu bulan dibukanya akses langsung dunia dan alam kubur.  Ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh penghuni kampung kubur, karena pada saat itulah paket-paket kiriman doa dari anak cucu diterima. Oleh karena itulah, sang anak pun berlomba memuliakan orang tuanya dengan kiriman doa. Tentu saja, semakin banyak yang ikut mendoakan berarti semakin banyak pula doa yang diterimakan kepada orang tuanya di alam kubur sana. Ini sangat ekplisit dari ucapan pak Kaum ketika meng-ujub-kan acara…’bapak-bapak dipun suwuni tulung ndongakaken leluhuripun bapak/ibu…. Ingkang sampun semare…’ (red: bapak-bapak diminta bantuannya untuk mendoakan leluhurnya bapak/ibu… yang telah meninggal’). Dengan semangat gotong-royong itulah, kami melakukan tahlilan untuk mengirim doa kepada orang tua-orang tua kami.

Saya selalu berpikir, jangan-jangan tradisi semacam ini sebenarnya hanya khas pada masyarakat miskin dan pedesaan. Saking susahnya mencari duit untuk kebutuhan duniawi, berdoa pun jadi tidak sempat. Dus, orang tua di alam kubur pun dilupakan. Nah, pada bulan Ruwah inilah saat untuk menunjukkan kembali darma bakti. Membersihkan makam (sebagai manifestasi lahiriah kampung kubur) dan kiriman doa untuk leluhur merupakan pilihan yang komplit.
‘Lha, hubungannya dengan berkat yang kita bawa pulang?’ tanya saya masih penasaran.
‘Berkat itu kan tanda terima kasih saja, karena sudah membantu hajad… itu wujud dhawuh Kanjeng Nabi tentang sodakoh…urusan hablumminannas, sesama manusia, tetangga, dan kerabat…’ jawab mbah Rebo.
‘itu juga ada nilai hablumminalLoh juga pak…  barokah pahala dari keihklasan si tuan rumah ini nanti juga bagian yang dikirimkan untuk leluhur tadi…’ lanjut lik Gambleh.

Welah, …. lik Gambleh, mbah Rebo,…
Saya kok tiba-tiba jadi minder untuk berceramah di masjid kampung kami besok bulan Romadhon. Padahal saya sudah dijadwal 2 kali memberi Kultum. Ngomong apa ya saya? Metodologi Antropologi  wae po ya… heheheh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE