Serangan Ulat Bulu

Sejak minggu yang lalu kelompok kami sedang resah. Apa lagi kalau bukan gara-gara serangan ulat bulu yang sudah seperti malware komputer, merembet kemana-mana. Ketika berita pertama tentang ulat ini muncul di Probolinggo, kami masih menganggap  ‘ah, masih jauuuhh, mosok to uler e akan nggremet sampai Jogja?!’ Orang-orang masih tenang. Ketika merembet ke Pasuruan dan Malang, kami masih tenang, ‘ah, itu kan hanya menyerang pohon pelem saja!’ Di kampung kami, memang hanya ada berapa batang saja. Lhadalah, kemudian kok kabar tentang ulat bulu ternyata sudah meluber kemana-mana, bahkan di Jakarta yang sudah lebih banyak gedung betonnya daripada pepohonan itu kok ya sudah diserang!?
Jadilah, malam ronda kami menjadi sidang pleno darurat membahas serangan ulat bulu. Ndilalahnya kok timnya komplit, biasanya kalau musim gerimis ini hanya thar thir 4-6 orang saja yang datang. Mungkin isu ulat bulu itu membuat mereka merasa perlu menyingkap selimut, mengalahkan rasa dingin dan malas, berangkat ronda untuk urun rembug persoalan bangsa yang gawat ini.
‘Tuh pak, ulat bulunya dah melompat sampai Bali…’ kata pak Tom, sambil menggigit pisang goreng.  Mata kami sepenuhnya mengarah kepada tipi 14 inci punya mas Toro. Kami makin kamitenggengen, terpana, ketika ulat bulu ternyata ada juga di Kudus, di Riau, di jakarta. Yang mengejutkan adalah berita bahwa serangan ulat bulu ternyata juga sudah sampai di Sleman.
‘waaa, bahaya iki….’ gumam lik Gambleh.
‘tenang aja lik, itu hanya menyerang pohon tertentu saja kok…’ sahut saya
‘ning tetep saja nggilani pak, kalau banyak seperti itu…’ sahut mas Yudi
‘…iya pak, memang itu pohon buah biasanya yang kena, tapi di sini kan tidak ada pohon buah… kalo sampai sini, dia kan butuh makan, bisa juga dia akan makan sembarang daun… ya jagung, ya ketela, pisang, telo rambat…  ngalamat tidak panen ini…’ sahut lik Gambleh lagi
‘nek sampai sini dan butuh mangan ya disuguh saja pisang goreng…’ mbah Rebo nyahut sambil nyomot pisang goreng. Lik Gambleh melotot anyel.
‘mestinya ini pemerintah menetapkan status darurat… karena sudah membahayakan sendi dasar perekonomian nasional… produksi pertanian pasti turun, daya beli masyarakat pasti turun juga, angka kemiskinan pasti akan naik..’ sambung pak Tom lagi. Yang lain manggut-manggut, entah tahu benar apa tidak.

‘apa ada cara untuk menghentikan itu ya pak?’ tanya saya
‘ya semprotan itu pak, yang cepat!’ sahut pak Tom.
‘wah, kalo disemprot, mati, lalu dimakan ayam-ayam kita… bisa ikut mati juga no ayam-ayam kita? Bencananya jadi dobel kalo gitu…’ sahut pak Slamet.
‘mungkin perlu diadakan mujahadahan…’ tiba-tiba mbah Man, anggota paling senior kami, berpendapat.
‘mujahadahan gimana to mbah? Masalah ulat bulu kok malah mujahadahan… emangnya ulat bulunya diajak ikut mendengarkan mujahadah, lalu mereka jadi sibuk dzikiran dan lupa makan tanaman kita?’ ejek lik Gambleh. Orang ini kadang sok kebablasen, gak lihat-lihat orang kalau mau menyodok. Tapi mbah Man tetap tenang saja tuh wajahnya.
‘mboten seperti itu no nak mas Gambleh, jangan dilihat ulatnya… ulat itu hanya pertanda, ngalamat. Itu peringatan dari Gusti Alloh…coba to dilihat...rakusnya ulat bulu itu kan perlambang dari korupsi... itu nanti bisa menjadi bagus kalau kita bisa menahan diri... berpuasa seperti enthung itu...’ lantas mbah Man meneruskan wejangan tentang ujian, cobaan, dari Tuhan, dan tatanan masyarakat yang rusak. Ustadz Ucup yang duduk di pojok hanya tersenyum senang, kayaknya pengajian yang disampaikan beliau sudah merasuk. Buktinya mbak Man juga fasih menyitir ayat seperti yang diceritakan ustadz Ucup.
‘ning kan ya perlu juga bikin kenduren, kirim doa, juga ubaremape sesajen untuk cikal bakal desa kita ini… Kyai Among Nini Among yang siang malam menjaga kampung kita dari pageblug…’ sahut pak Sar, yang paling pendiam di antara kami. Semua manggut-manggut lagi, entah setuju entah tidak.

Menurut pak Sar dan mbah Rebo, petani paling senior di grup ronda kami, ulat-ulat semacam itu sebenarnya sesuatu yang biasa saja. Berdasarkan gambar di tipi, mereka mengidentifikasi ada uler keket, uler jedhung, uler dondong, uler srengenge (ulat matahari, yang kalau kena kulit dijamin melepuh!), dan uler-uler lain. Tetapi, dalam tipi dikategorikan dalam satu kategori saja: ulat bulu! Menurut tim pakar kami tersebut, sebenarnya ulat-ulat itu ada musim-musimnya. Kapan ulat itu keluar banyak dan kapan itu sedikit. Masing-masing memiliki sasaran tanaman tertentu. Untuk menangkal ulat itu biasanya petani hanya membuat larutan gadhung, bratawali, plus sabun cuci.
‘kalau sudah disemprot itu kan daun jadi pahit… ulat gak mau makan…’ terang mbah Rebo.
‘emangnya ulat itu punya lidah ya mbah?’ sambar lik Gambleh.
‘duwe no,… ya punya saja, kalau punyamu itu kamu pinjamkan…’ jawab mbah Rebo tangkas. Semua tertawa terbahak.

Ah, indahnya, kalau orang bisa saling bercanda dengan perbedaan. Perspektif lokal dan agama ternyata tidak harus bersitegang. Cara berpikir tradisional dan moderen tidak harus bertolak belakang. Semua bisa dikunyah rame-rame. Malam itu untuk pertama kalinya dalam sejarah ronda kami suguhan yang disajikan habis tandas. Entah, karena inspirasi dari kerakusan ulat bulu atau bagaimana kok ya semua yang ada di piring habis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

20 Milyar

40 juta

KATE